Hati-hati terhadap aib saudaramu 

♻ *Mutiara Hikmah Salaf*

📚 *HATI-HATI Terhadap AIB Saudara-Mu..!!*

*Amirul Mukminin Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu* berkata,
ولا تظنَّنَّ بكلمة خرجت من أخيك المؤمن إلاَّ خيراً، وأنت تجد لها في الخير مَحملاً 
“Janganlah engkau berprasangka terhadap perkataan yang keluar dari saudaramu yang mukmin kecuali dengan persangkaan yang baik. Dan hendaknya engkau selalu membawa perkataannya itu kepada prasangka-prasangka yang baik.” 
[Rifqan Ahlu as-Sunnah bi Ahli as-Sunnah, halaman 10]
*Syekh Abu Bakar bin Jabir al-Jazairi rahimahullah* berkata ketika menafsirkan ayat ke 12 dari surat Al-Hujurat, 
“Haram mencari kesalahan dan menyelidiki aib-aib kaum muslimin dan menyebarkannya serta menelitinya” 
[Aisar at-Tafaasir li Kalam al-‘Aliy al-Kabir, halaman 128].
*Syekh As-Sa’di rahimahullah* berkata, 
“Janganlah kalian meneliti aurat (aib) kaum muslimin dan janganlah kalian menyelidikinya.”
[Aisir al-Karim ar-Rahman fi tafsir al-Kalam al-Mannan, halaman 801]
Murid dari Syaikh as-Sa’di yaitu *Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah* juga berkata, 
“Tajassus yaitu mencari aib-aib orang lain atau menyelidiki kejelekan saudaranya”
[Tafsiir al-Quran al-Karim: al-Hujurat ila al-Hadid, halaman 51].
*Dr. Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq Alu Syaikh* juga menuturkan ketika menafsirkan ayat di atas sebagai berikut;
“maksudnya adalah atas sebagian kalian. Kata ‘tajassus’ lebih sering digunakan untuk suatu kejahatan. Sedangkan kata ‘tahassus’ seringkali digunakan untuk hal yang baik. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala, yang menceritakan tentang nabi Ya’qub ‘alaihissalam, di mana Dia berfirman dalam surat Yusuf ayat 87.
يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ
(Ya’qub berkata) “Wahai anak-anakku, pergilah kalian, carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya…” (QS. Yusuf: 87)
Namun terkadang kedua kata tersebut digunakan untuk menunjukkan hal yang buruk,.”
[Lubab at-Tafsir min Ibn Katsir, halaman 731]

*

Imam Abu Hatim al-Busti rahimahullah* berkata, 
“Tajassus adalah cabang dari kemunafikan, sebagaimana sebaliknya prasangka yang baik merupakan cabang dari keimanan. Orang yang berakal akan berprasangka baik kepada saudaranya, dan tidak mau membuatnya sedih dan berduka. Sedangkan orang yang bodoh akan selalu berprasangka buruk kepada saudaranya dan tidak segan-segan berbuat jahat dan membuatnya menderita.”
[Raudhah al-Uqala’, halaman 131]
Maka, cukuplah buat kita sebuah untaian perkataan seorang imam yaitu Imam Abu Hatim bin Hibban Al-Busthi berkata dalam sebuah kitabnya yang dikutip oleh Syekh Abdul Muhsin bin Hamd al-‘Abbad al-Badr dalam tulisannya sebagai berikut, 
*”Orang yang berakal wajib mencari keselamatan untuk dirinya dengan meninggalkan perbuatan tajassus dan senantiasa sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri. Sesungguhnya orang yang sibuk memikirkan kejelekan dirinya sendiri dan melupakan kejelekan orang lain, maka hatinya akan tenteram dan tidak akan merasa capai. Setiap kali dia melihat kejelekan yang ada pada dirinya, maka dia akan merasa hina tatkala melihat kejelekan yang serupa ada pada saudaranya. Sementara orang yang senantiasa sibuk memperhatikan kejelekan orang lain dan melupakan kejelekannya sendiri, maka hatinya akan buta, badannya akan merasa letih, dan akan sulit baginya meninggalkan kejelekan dirinya.”*
[Raudhah al-‘Uqala wa Nuzhah al-Fudhala’]

*

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam* bersabda,
إِيَّا كُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيْثِ وَلاَ تَحَسَّسُوا وَلاَ تَجَسَّسُوا وَلاَ تَحَاسَدُوا وَلاَتَدَابَرُوا وَلاَتَبَاغَضُوا وَكُوْنُواعِبَادَاللَّهِ إحْوَانًا
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
[Diriwayatkan oleh Al-Bukhari hadis no. 6064 dan Muslim hadis no. 2563]
👉 *Lalu bagaimana jika aib tersebut ternyata tidak terdapat pada saudaramu…??!!*
Semoga kita senantiasa dimudahkan oleh Allah dalam berakhlak karimah dan menjauhi sifat-sifat buruk dan sikap  yang merugikan diri kita sendiri. Amiin.

Ust. Rochmad supriadi LC 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s