Bertetangga, Memuliakan tetangga 

Ust. Kholid syamhudi LC 

#TIGA WASIAT BERHARGA#

 

عَنْ أَبِي ذَرّ جُنْدُبْ بْنِ جُنَادَةَ وَأَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ مُعَاذ بْن جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ ”

 [رواه الترمذي وقال حديث حسن وفي بعض النسخ حسن صحيح]

 

 

* Kosa kata / مفردات :

– اتَّقِ (الله): Bertakwalah (kpd Allah)

– حَيْثُمَا  : Dimana saja  (Allah)

– السَّيِّئَة: keburukan

– أَتْبِعِ  : Ikutilah

– خَالِقِ : pergaulilah

– تَمْحُـ(هَا) : menghapus-(nya)

– (بـ)خُلُق: (dg) akhlak
* Terjemah hadits / ترجمة الحديث :

Dari Abu Zar, Jundub bin Junadah & Abu Abdurrahman  & Mu’az bin Jabal radhiallahuanhuma dari Rasulullah ebeliau bersabda : “Bertakwalah kpd Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dg kebaikan niscaya menghapusnya & pergauilah manusia dg akhlak yg baik “

(Riwayat Turmuzi, dia berkata: hasan, pd sebagian cetakan dikatakan hasan shahih).

 

* Penjelasan Hadits/شرح الحديث

Dlm hadits ini Nabi  berwasiat kpd Abu Dzar & Mu’adz dg tiga wasiat yg dituntut pd seorg muslim berkenaan dg Allah, dirinya & org lain:

1.    Wasiat bertakwa kpd Allah dlm sabda beliau : (اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ). Sabda beliau ini bermakna agungkanlah Allah dg ketakwaan, ibadah & melaksanakan semua hak Allah.

Wasiat ini juga merupakan wasiat Allah kpd seluruh manusia sebagaimana dijelaskan dlm firmanNya:

“Dan sungguh Kami telah wasiatkan kpd org-org yg diberi kitab sebelum kamu & (juga) kpd kamu; bertaqwalah kpd Allah.” (QS. An-Nisaa’ 4:131).

Juga ini merupakan perintah para Rasul kpd umatnya spt dicontohkan pd pernyataan nabi Nuh , Hud & sholeh yg menyatakan:

“Sesungguhnya aku adalah seorg rasul kepercayaan (yg diutus) kepadamu, maka bertaqwalah kpd Allah & taatlah kepadaku.” (QS. Asy-Syu’araa 26:107-108)
  ** Aug 20 Sat 07:04 **
  أبوحمزة  Suparwan: Takwa disini adalah membuat perlindungan dari adzab Allah dg melaksanakan semua perintahNya, menjauhi seluruh laranganNya, membenarkan semua beritaNya & beribadah sesuai syari’tNya.  Ketakwaan ini dibutuhkan & dituntut dlm seluruh keadaan manusia.
2.    Wasiat berbuat baik thd diri sendiri yg  disebutkan dlm sabda beliau: (وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا). Hal ini bermakna apabila kamu melakukan dosa & kesalahan maka ikutilah hal itu dg kebaikan sehingga kamu menjadi org yg berbuat baik thd diri kalian, sebagaimana firman Allah :

“Sesungguhnya perbuatan2 yg baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yg buruk.” (QS. Hud 11:114)

Diantara perbuatan baik tsb adalah taubat yg menghapus dosa, demikian juga perbuatan baik lainnya dapat menghapus dosa-dosa kecuali dosa besar yg hanya dapat dihapus dg taubat.

Dengan demikian maka penghapusan dosa dg amal kebaikan ada dua martabat:

a.    Berniat menghapus dosa dg kebaikan yg diamalkannya. Inilah martabat tertinggi karena disertai dg taubat. Hati berlepas dari dosa tsb & ingin menghapusnya serta mendekatkan diri dg kebaikan tsb hingga Allah meridhoinya.

b.    Beramal kebaikan saja. Amal kebaikan menghapuskan dosa secara umum. Setiap kebaikan menghapus keburukan yg menjadi lawannya.

Demikianlah kemurahan & kasih sayang Allah kpd makhluknya.
3.    Wasiat berbuat baik thd org lain dg akhlak mulia dlm sabda beliau: (وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ). Bermakna pergaulilah org lain dg akhlak mulia baik perkataan maupun perbuatan. Hal ini bisa jadi dilakukan sebagai satu kewajiban atau hanya sunnah semata. Demikianlah seorg dituntut demikian dg cara bergaul dg org lain spt ia ingin org lain melakukannya pd dirinya. Oleh karena itu Rasululloh bersabda dlm hadits lainnya:

فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يُزَحْزَحَ عَنِ النَّارِ وَيَدْخُلَ الْجَنَّةَ فَلْتَأْتِهِ مَنِيَّت?ُهُ وَهُوَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَلْيَأْتِ إِلَى النَّاسِ الَّذِى يُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْه
*
  ** Aug 20 Sat 07:17 **
  أبوحمزة  Suparwan: “Siapa yg ingin diselamatkan dari Neraka & masuk kedalam syurga maka hendaknya kematian menjemputnya dlm keadaan ia beriman kpd Allah & hari akhir & hendaknya ia bergaul dg org lain dg sesuatu yg ia ingin mereka lakukan padanya.” (HR Muslim).

Demikianlah pentingnya akhlak yg mulia sehingga Allah mengutus Rasululloh u/ menyempurnakan akhlak yg mulia ini spt dijelaskan dlm sabda beliau:

 إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ

Aku diutus hanya u/ menyempurnakan akhlak yg mulia (HR Malik).

Demikianlah kehidupan dunia ini berjalan diatas tiga hubungan ini, sehingga bila kita dapat mewujudkan tiga wasiat berharga ini, kita -dg izin Allah- akan bahagia didunia & akherat.

Yg ingin berbahagia silahkan mengamalkan ketiga wasiat ini.

 

* Pelajaran yg terdapat dlm hadits / الفوائد من الحديث :

1.    Takwa kpd Allah merupakan kewajiban setiap muslim & dia merupakan asas diterimanya amal shaleh.

2.    Bersegera melakukan ketaatan setelah keburukan secara langsung, karena kebaikan akan menghapus keburukan.

3.    Bersungguh-sungguh menghias diri dg akhlak mulia.

4.    Menjaga pergaulan yg baik merupakan kunci kesuksesan, kebahagiaan & ketenangan di dunia & akhirat. Hal tsb dapat menghilangkan dampak negatif pergaulan.
  ** Aug 21 Sun 06:43 **
  أبوحمزة  Suparwan: (y)
  ** Aug 21 Sun 06:43 **
  أبوحمزة  Suparwan: # Bentuk Memuliakan Tetangga #
Setelah mengetahui penting dan besarnya anjuran memuliakan tetangga, tentunya perlu juga mengetahui bagaimana cara memuliakan tetangga. 
Caranya mudah banget hanya dengan menunaikan hak-haknya. 

Nah hak-haknya ini dapat dikembalikan kepada empat hak yaitu:
1) Berbuat baik (ihsan) kepada mereka.

Berbuat baik dalam segala sesuatu adalah karektaristik islam, demikian juga pada tetangga. Imam Al marwaziy meriwayatkan dari Al Hasan Al Bashriy pernyataan beliau: “tidak mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga  akan tetapi berbuat baik terhadap tetangga dengan sabar atas gangguannya”.

Sehingga Rasululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: 

 خَيْرُ الْأَصْحَابِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِصَاحِبِهِ وَخَيْرُ الْجِيرَانِ عِنْدَ اللَّهِ خَيْرُهُمْ لِجَارِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ 

Sebaik-baiknya sahabat disisi Allah adalah yang paling baik kepada sahabatnya.
Diantara ihsan kepada tetangga adalah: Ta’ziyah ketika mereka mendapat musibah, mengucapkan selamat ketika mendapat kebahagiaan, menjenguknya ketika sakit, memulai salam dan bermuka manis ketika bertemu dengannya dan membantu membimbingnya kepada hal-hal yang bermanfaat dunia akherat serta memberi mereka hadiah.
  ** Aug 21 Sun 06:47 **
  أبوحمزة  Suparwan: Sebagian ulama berkata: “Kesempurnaan berbuat baik kepada tetangga ada pada empat hal:
– Senang dan bahagia dengan apa yang dimilikinya

– Tidak tamak untuk memiliki apa yang dimilikinya.

– Mencegah gangguan darinya.

– Bersabar dari gangguannya .
2) Sabar menghadapi gangguan tetangga.

Ini adalah hak kedua untuk tetangga yang berhubungan erat dengan yang pertama dan menjadi penyempurnanya. Hal ini dilakukan dengan memaafkan kesalahan dan perbuatan jelek mereka, khususnya kesalahan yang tidak disengaja atau sudah dia sesali kejadiannya. Hasan Al Bashriy berkata: “tidak mengganggu bukan termasuk berbuat baik kepada tetangga  akan tetapi berbuat baik terhadap tetangga dengan sabar atas gangguannya”.
3) Menjaga dan memelihara tetangga.

Ini merupakan hak ketiga untuk tetangga. Imam Ibnu Abi Jamroh berkata: “menjaga tetangga termasuk kesempurnaan iman. Orang jahiliyah dahulu sangat menjaga hal ini dan melaksanakan wasiat berbuat baik ini dengan memberikan beraneka ragam kebaikan sesuai kemampuan; seperti hadiyah,salam, muka manis ketika bertemu, membantu memenuhi kebutuhan mereka, menahan sebab-sebab yang mengganggu mereka dengan segala macamnya baik jasmani atau maknawi. Apalagi Rasululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  telah meniadakan iman dari orang yang selalu mengganggu tetangganya. Ini merupakan ungkapan tegas yang mengisyaratkan besarnya hak tetangga dan mengganggunya termasuk dosa besar.”
  ** Aug 21 Sun 06:49 **
  أبوحمزة  Suparwan: 4) Tidak mengganggu tetangga.

Telah dijelaskan diatas akan kedudukan tetangga yang tinggi dan hak-haknya terjaga dalam islam. Oleh karena itu Rasululloh  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ memperingatkan dengan keras upaya mengganggu tetangga, sebagaimana dalam sabda beliau :

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Tidak masuk syurga orang yang tetangganya tidak aman dari kejahatannya.
Demikianlah sikap yang benar dalam memuliakan tetangga.
  ** Aug 21 Sun 18:30 **
   Pracoyo W. Utomo    ‎​أبو أفينا: Sungguh betapa banyak orang yang melaksanakan shalat malam, puasa dan sedekah, namun itu semua dilakukan hanya bertujuan untuk menggapai kekayaan dunia, memperlancar rizki, umur panjang, dan lain sebagainya.

 

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (Hud : 15-16)

  

Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu- menafsirkan surat Hud ayat 15-16. Beliau –radhiyallahu ‘anhu- mengatakan, “Sesungguhnya orang yang riya’, mereka hanya ingin memperoleh balasan kebaikan yang telah mereka lakukan, namun mereka minta segera dibalas di dunia.”

 

Ibnu ‘Abbas juga mengatakan,

“Barangsiapa yang melakukan amalan puasa, shalat atau shalat malam namun hanya ingin mengharapkan dunia, maka balasan dari Allah: “Allah akan memberikan baginya dunia yang dia cari-cari. Namun amalannya akan sia-sia (lenyap) di akhirat nanti karena mereka hanya ingin mencari dunia. Di akhirat, mereka juga akan termasuk orang-orang yang merugi”. 

 

(Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, tafsir surat Hud ayat 15-16)

 

“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yg menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” 

(Asy Syuraa: 20)
“Umat ini diberi kabar gembira dg kemuliaan, kedudukan, agama dan kekuatan di muka bumi. Barangsiapa dari umat ini yg melakukan amalan akhirat utk meraih dunia, maka di akhirat dia tidak mendapatkan satu bagian pun.”
(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dalam kitab Shahihnya, Al Hakim dan Al Baiaqi, Shahih. Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini dalam Shahih At Targhib wa At Tarhib)

 
  ** Aug 23 Tue 16:08 **
  أبوحمزة  Suparwan: # ETIKA DALAM BERTETANGGA #
Memuliakan dan berbuat baik kepada tetangga adalah perkara yang sangat ditekankan dalam syari’at islam, sehingga hal ini juga telah diperintahkan Allah Ta’ala dalam firmanNya: 
(yang artinya)

Beribadahlah kepada Allah dan janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri. (Qs. an-Nisaa/4:36).
Bila melihat ayat ini, Allah menyebutkan lima kelompok orang yang harus disikapi dengan baik. Yaitu:
1) Orang yang masih dalam hubungan kekerabatan. 
Allah menyebutkan orang tua secara khusus di antara mereka, karena keduanya memiliki keistimewaan atas seluruh sanak kerabat, dan tidak ada satu pun dari mereka yang mempunyai keistimewaan tersebut sebanding dengannya, karena keduanya menjadi sebab keberadaan anak, mempunyai hak mendidik, mengasuhnya, dan lain-lain. 
2) Orang lemah yang membutuhkan kebaikan. 
Ini ada dua: 
– anak-anak yatim  karena kelemahan badannya
– orang miskin karena kelemahan dalam harta.
  ** Aug 23 Tue 16:11 **
  أبوحمزة  Suparwan: 3) Orang yang memiliki hak kedekatan dan tetangga. 
Ini ada tiga kelompok: 
– tetangga dekat

– tetangga jauh

– teman sejawat
Dalam Shahîh al-Bukhâri, dari ‘Aisyah , ia berkata: “Aku berkata, ‘Wahai, Rasulullah! Sesungguhnya aku memiliki dua orang tetangga. Kepada siapakah aku memberikan hadiah?’ Beliau menjawab, ‘Kepada tetangga yang paling dekat pintunya denganmu’.”
Adapun teman sejawat, maka sebagian ulama menafsirkannnya dengan istri. Sebagian lagi -di antaranya Ibnu ‘Abbas  – menafsirkannya dengan teman dalam safar. Ada juga yang menafsirkannya dengan teman yang sholih seperti pendapat Sa’id bin Jubair. Sedangkan Zaid bin Aslam berkata: “Ia adalah teman dudukmu ketika mukim dan temanmu ketika safar”.
4) Orang yang datang kepada seseorang dan tidak menetap bersamanya, yaitu ibnu sabil. Ia adalah musafir apabila singgah di suatu negeri. Ada ulama yang menafsirkannya dengan tamu. Maksudnya, jika musafir singgah sebagai tamu pada seseorang. 

Kelima. Hamba sahaya. Nabi sering kali mewasiatkan kaum muslimin agar berbuat baik kepada mereka. Diriwayatkan bahwa wasiat terakhir beliau ketika kematian menjemput ialah, “Shalat dan berbuat baik kepada hamba sahaya yang kalian miliki.”
Begitu pentingnya memuliakan tetangga hingga Nabi  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda: 

مَا زَالَ جِبْرِيْلُ يُوْصِيْنِيْ بِالْـجَارِ حَتَّى ظَنَنْتُ أَنَّهُ سَيُوَرِّثُهُ.

Malaikat Jibril senantiasa berwasiat kepadaku tentang tetangga, sehingga aku mengira bahwa tetangga akan mewarisi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s