SEANDAINYA ANAKKU SEPERTI MUSA

# SEANDAINYA ANAKKU SEPERTI MUSA
By Budi Marta Saudin LC

Sejak 1,5 tahun lalu nama Musa banyak diperbincangkan orang. Usianya yang masih sangat muda membuat decak kagum bagi siapapun yang melihatnya. Saat itu baru 5,5 tahun tapi ia sudah hafal Al-Qur’an 29 juz, kemudian genap 6 tahun ia menyempurnakan hafalannya 30 juz.

Yang mempopulerkan Musa adalah acara acara hafidz Indonesia. Program lomba hafalan Al-Qur’an dengan peserta anak-anak yang ditayangkan salah satu stasiun televisi swasta ini menyedot perhatian orang. Saat Musa tampil, hampir semua orang yang melihtnya menangis. Bahkan tak jarang dewan juri pun meneteskan air mata karena haru menyaksikan anak sekecil itu bisa menghafalkan Al-Qur’an dengan mutqin.

Jika dahulu ada kisah para ulama yang hafal Al-Qur’an semenjak belia, seperti Imam Malik dan Imam Syafi’i, maka zaman ini, di negeri yang jauh dari jazirah Arab dan tak bisa berbahasa Arab, ada Musa. Musa bukan saja mengguncang Indonesia, tapi dunia.

Beberapa hari lalu, Musa kembali menorehkan prestasinya. Ia meraih juara ketiga pada lomba hafalan Al-Qur’an tingkat internasional di Mesir. Dewan juri menentukan demikian, karena penilaian bukan hanya dilihat dari kekuatan hafalan, tetapi memperhatikan juga makhorijul huruf. Mengingat Musa masih cadel, sehingga ia tidak menempati urutan pertama. Meski demikian, dewan juri menyampaikan rasa kagum luar biasa, mendapati ada anak kecil dari Indonesia yang memiliki kemampuan sehebat itu. Musa berusia paling muda diantara peserta-peserta yang ada, ia baru berusia tujuh tahun. Musa kemudian diminta oleh pemerintah Mesir pada Ramadhan mendatang untuk hadir di negeri para nabi tersebut.

Bagaimana Proses Belajar Musa?

Banyak orang tua yang mendambakan memiliki anak seperti Musa. Siapa yang tidak ingin punya anak menjadi penghafal Al-Qur’an?, terlebih di usia yang masih sangat dini. Ini merupakan idaman bagi setiap orang tua, dimana ia adalah aset berharga yang tak ternilai harganya.

Musa sering diundang oleh lembaga-lembaga Islam untuk berbagi kisah bagaimana ia berhasil menjadi seorang hafidz cilik. Para orang tua juga sering bertanya dan konsultasi kepada orang tua Musa, La Ode Abu Hanafi dan Yulianti,  meminta resep agar anak-anaknya bisa menjadi seperti Musa.

Musa tidaklah tiba-tiba menjadi Musa seperti sekarang.  Untuk menjadi hafidz Qur’an, tidak melalui proses dan tahapan yang instan. Orang tua Musa mendidiknya dengan ketat dan disiplin. Musa bukanlah santri pondok pesantren atau sekolah Islam terpadu. Ia adalah didikan langsung kedua orang tuanya.

Sebelum subuh, seisi rumah Musa sudah bangun. Kedua orang tuanya dan adik-adik Musa melakukan sholat tahajud, kemudian melanjutkan sholat subuh di masjid. Setelah itu ia mengulang hafalan dimbing oleh ayahnya sampai pukul 9 pagi. Usai mengulang hafalan, Musa sarapan kemudian tidur sampai dzuhur.

Setelah dzuhur, Musa ngaji lagi sampai ashar. Setelah ashar Musa mengahafal kitab-kitab hadits, dan saat ini sudah hafal kitab arba’in nawawi, bulughul maram dan umdatul ahkam. Pukul 17 sampai menjelang maghrib adalah waktu bermain bagi Musa.

Sedangkan setelah maghrib sampai isya, Musa diajak ayahnya untuk ke pengajian. Seringkali Musa diminta untuk mengulang-ulang hafalannya di hadapan jamaah yang hadir.

Keluarga Musa berbeda dengan lainnya. Saat waktu kosong biasanya dimanfaatkan dengan menonton televisi, tidak demikian bagi Musa. Di rumahnya tidak ada televisi bahkan  orang tuanya sebisa mungkin untuk menghindari tontonan-tontonan televisi, yang memang kebanyakan bersifat negatif dan tidak mendidik.

Ayah Musa yang berprofesi sebagai pedagang dan berkebun karet, memudahkan ia untuk mendidik dan mengontrol langsung perkembangan Musa di rumah sendiri, tanpa mengandalkan pihak lain seperti sekolah atau pesantren. Awalnya Abu Hanafi bekerja ke luar kota, tapi demi pendidikan dan kebaikan bagi anak-anaknya, ia balik kampung dan membuka usaha sendiri.

Ingin Anak  Kita Seperti Musa?

Jika melihat pengorbanan dan perjuangan orang tua Musa, sangat luar biasa hebatnya. Abu Hanafi rela meninggalkan pekerjaannya demi pendidikan anak-anaknya, sedangkan kita? Berapa jam berkumpul bersama anak-anak?.

Keluarga Musa bangun sebelum subuh, kemudian mengajari Musa membaca dan menghafal Al-Qur’an sampai sore hari. Apakah kita demikian?

Tak ada televisi di rumah Musa, orang tuanya melarang itu untuk kebaikan keluarganya. Lalu bagaimana dengan kita?, apakah justru mengajari anak-anak untuk rutin melihat acara-acara musik dan sinetron?.

Ketika melihat Musa, mata menangis, kemudian muncul keinginan kuat agar anak kita bisa menjadi seperti Musa. Tapi pertanyaannya, apakah kita sudah menciptakan lingkungan dan mendidik seperti ayah Musa kepada Musa?.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s