KISAH IBRAHIM BESERTA ISTRINYA DISISI KA’BAH

KISAH IBRAHIM BESERTA ISTRINYA DISISI KA’BAH (Ikhlas bagian 3)
Ust. Rochmad supriyadi LC

Marilah kita memperhatikan dan merenungi keadaan ikhlas dan iman, sebagaimana dibawakan kisah ini oleh sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Datang Ibrahim beserta istri dan putranya Ismail dalam keadaan diberikan minum hingga diletakkan di sisi Kabah di bawah Pohon Besar di atas tanah yang menyimpan sumber air zamzam dimana masjid bagian atasnya. Tidak ada seorangpun berada di sana dan tidak terdapat sumber air yang keluar. Maka Ibrahim meninggalkan keduanya -sang ibu dan anak- dengan sekantong kurma dan pundi-pundi yang berisi air. Kemudian Ibrahimpun berjalan dan diikuti istrinya seraya berkata, ”Wahai Ibrahim, kemanakah engkau akan pergi? Lalu kamu tinggalkan kami di lembah yang asing ini yang tidak dijumpai suatu apapun?” Perkataan ini diulang-ulang dan Ibrahim pun tidak menoleh kepadanya. Maka Ummu Ismail pun bertanya kembali, “Apakah Allah memerintahkanmu ini?” Maka dijawab, “Iya.“ Ummu Ismail berkata, “Allah tidak akan menelantarkan kita“. Maka Ummu Ismail kembali dan Ibrahim terus berjalan hingga sampai diantara dua bukit tidak terlihat lalu ia menghadap dengan wajahnya ke arah Kabah seraya mengucap doa dengan mengangkat kedua tangannya:

 رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُواْ الصَّلاَةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ 

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS. Ibrahim: 37)

Ummu Ismail memberikan minum kepada putranya kemudian minum dari persediaan air. Dikala perbekalan pundi-pundi air itu telah habis, hingga keduanya merasa haus dan melihat putranya berguling-guling dan memukulkan kakinya ketanah,  maka Ummu Ismail merasa sedih. Beliau melihat ke bukit Shafa adalah bukit terdekat hingga menaikinya dan melihat ke arah lembah dan tidak menjumpai sesuatu apapun. Kemudian turun menuju lembah dan menyingsingkan kainnya seraya berlarian kecil seolah terburu-buru hingga melewati lembah dan menuju ke bukit Marwa dan berdiri di puncaknya berharap dapat melihat seseorang, akan tetapi ia tidak menjumpai sesuatu apapun, dan hal itu terulang hingga tujuh kali. Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Dan dengan ini para manusia disyariatkaan agar bersa’i antara kedua bukit tersebut”.

Ketika mendekati bukit marwa, ia mendengar suara, maka ia berkata untuk dirinya sendiri agar diam, dan ia mendengar suara lagi, maka ia berkata, ”Engkau telah memperdengarkan suara, jika engkau mampu menolong maka tolonglah, tiba-tiba ia melihat malaikat di dekat keberadaan zam-zam, seraya menggali tanah dengan tumitnya, atau dengan sayapnya hingga memancarkan air, maka dia mulai membendung air tersebut dengan kedua tangannya, kemudian ia memasukkan air ke dalam pundi-pundi dan air terus mengalir setelah diambilnya, dalam riwayat disebutkan –sebesar apa yang ia ambil/ciduk-.

Berkata Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma, bersabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Ummu Ismail, jika sekiranya ia membiarkan Zam Zam, dalam riwayat -jika tidak mengambil/menciduknya- maka niscaya Zam Zam akan menjadi mata air yang memancar”.

Maka Ummu Ismail meminum darinya dan menyusui putranya, kemudian malaikat berkata kepadanya, ”Janganlah khawatir akan terlantar, sesungguhnya disini Baitullah yang akan dibangun anak ini dan Ayahnya, dan Allah tidak akan menelantarkan keluarganya”. (HR Bukhary).

Lihatlah bagaimana kisah ini! Penampakan ikhlas pada Ibrahim dalam rangka menuaikan perintah Allah Ta’ala agar meninggalkan Istri dan putranya di tempat yang tidak ada penghidupan dan sesuatu apapun, dan penampakan ikhlas ada pada istrnya tatkala ia berkata, ”Apakah Allah memerintahkanmu melakukan ini?” maka dijawab, “Iya” maka ia berkata, ”Niscaya Allah tidak akan menelantarkan kita”.

Apakah Allah menelantarkan mereka? Sungguh keikhlasan Ibrahim dan istrinya memiliki dampak dalam kekokohan hati bagi seorang  mukmin yang telah menyerahkannya dirinya kepada Allah, lantaran ikhlas Allah pancarkan dan alirkan Zam Zam, bukan hanya sekedar untuk Ummu Ismail dan putranya saja, akan tetapi untuk miliyunan manusia sepanjang tahun. Buah dari keikhlasan kepada Allah teralirnya sumber Zam Zam bagi setiap orang yang menunaikan ibadah Haji dan Umroh dari seluruh penjuru dunia. Air Zam Zam yang mana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda padanya, ”Air Zam Zam diminum sesuai yang ia niatkan“.

Barang siapa meminumnya dengan niat agar Allah memberikan ilmu pada dirinya, maka niscaya Allah berikan ilmu, jika ia meminumnya dengan niat agar diberikan keteguhan agamanya, niscaya Allah akan teguhkan agamanya, barang siapa ia meminumnya dengan niat agar diberikan kesembuhan penyakit yang ia derita, niscaya Allah berikan kesembuhan atasnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya air ini adalah air yang diberkahi, ia adalah pengenyang bagi yang kelaparan dan penawar bagi penyakit”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sebaik-baik air di muka bumi adalah air Zam Zam, merupakan makanan bagi yang makan dan penawar bagi penyakit”.
***

Posted by Abu Hamzah Suparwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s