Nafkah biologis suami istri

Soal pasca nikah:

Ass.ustadz

Saya ada masalah dengan suami saya.sudah 1thn kami menikah tpi dia acuh tak acuh sama saya.dia lebih mementingkam harta dan bendanya dari pada tidur dngn saya.hampir setiap hri dia tidak tdr dngn saya.dan dia tidak peduli trhdp saya.tpi ktika saya mengancam akan pergi dari rumah.baru dia berontak kpda saya.
Tolong solusinya ustadz.

Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh.
Saya nasehatkan bagi penanya agar sebagai pasutri hendaklah bersabar dan hindari perceraian sebisa mungkin. Karena perceraian merupakan jalan keluar terakhir dan yang buruk.
Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Bazt berkata: “Allah mensyariatkan untuk memperbaiki hubungan antara suami istri dan menempuh cara-cara yang dapat mengum-pulkan keutuhan keduanya dan menjauhi perceraian. Di antara cara penyelesaian (masalah) tersebut1 yaitu nasehat, hajr2, dan pukulan yang ringan bila dua cara pertama tidak bermanfaat3. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَاللاَّتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلاَ تَبْغُواْ عَلَيْهِنَّ سَبِيلاً

“Dan para istri yang kalian khawatirkan (kalian ketahui dan yakini) nusyuz4nya maka hendaklah kalian menasehati mereka, meninggalkan mereka di tempat tidur (hajr) dan memukul mereka. Kemudian jika mereka menaati kalian maka janganlah kalian mencari-cari jalan untuk menyusahkan mereka.” (An-Nisa`: 34)

Termasuk upaya penyelesaian ketika terjadi perselisihan di antara kedua belah pihak adalah mengirim dua hakim, dari pihak suami dan dari pihak istri5, dengan tujuan untuk meng-ishlah (memperbaiki hubungan) keduanya sebagaimana firman Allah Ta’ala:
وَإِنْ خِفْتُمْ شِقَاقَ بَيْنِهِمَا فَابْعَثُواْ حَكَماً مِّنْ أَهْلِهِ وَحَكَماً مِّنْ أَهْلِهَا إِن يُرِيدَا إِصْلاَحاً يُوَفِّقِ اللّهُ بَيْنَهُمَا إِنَّ

“Dan bila kalian khawatir perselisihan di antara keduanya maka hendaklah kalian mengutus seorang hakim (pendamai) dari keluarga si suami dan seorang hakim (pendamai) dari keluarga si istri…”. (An-Nisa`: 35) (Al-Fatawa – Kitabud Da`wah, 2/237: 239)
Apabila cara-cara ini tidak bermanfaat dan tidak mudah memperbaiki keadaan dan perselisihan terus berlanjut, sementara bila pernikahan tetap dipertahankan yang timbul hanyalah permusuhan, kebencian dan maksiat kepada Allah Ta’ala, barulah memutuskan untuk bercerai.

Bercerai berarti hancurnya keutuhan keluarga, sementara kehancuran keluarga merupakan salah satu target yang diincar oleh para setan. Mereka sangat bergembira bila suami berpisah dengan istrinya, anak-anak terpisah dari ayah atau ibunya. Disebutkan dalam hadis dari Jabir, Nabi ‘alaihis shalatu was salam bersabda,

إن إبليس يضع عرشه على الماء ثم يبعث سراياه فأدناهم منه منزلة أعظمهم فتنة يجئ أحدهم فيقول فعلت كذا وكذا فيقول ما صنعت شيئا قال ثم يجئ أحدهم فيقول ما تركته حتى فرقت بينه وبين امرأته قال فيدنيه منه ويقول نعم أنت

“Sesungguhnya iblis singgasananya berada di atas laut. Dia mengutus para pasukannya. Setan yang paling dekat kedudukannya adalah yang paling besar godaannya. Di antara mereka ada yang melapor, ‘Saya telah melakukan godaan ini.’ Iblis berkomentar, ‘Kamu belum melakukan apa-apa.’ Datang yang lain melaporkan, ‘Saya menggoda seseorang, sehingga ketika saya meninggalkannya, dia telah bepisah (talak) dengan istrinya.’ Kemudian iblis mengajaknya untuk duduk di dekatnya dan berkata, ‘Sebaik-baik setan adalah kamu.’” (HR. Muslim, no.2813).

Al-A’masy mengatakan, “Aku menyangka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Iblis merangkul setan itu’.”

Al-Imam An-Nawawirohimahullahmenjelaskan hadits di atas bahwa Iblis bermarkas di lautan, dari situlah ia mengirim tentara-tentaranya ke penjuru bumi. Iblis memuji anak buahnya yang berhasil memisahkan antara suami dengan istrinya tersebut karena kagum dengan apa yang dilakukannya dan ia dapat mencapai puncak tujuan yang dikehendaki Iblis. (Syarh Shahih Muslim, 17/157)

Imam al-Munawi mengatakan, “Sesungguhnya hadis ini merupakan peringatan keras, tentang buruknya perceraian. Karena perceraian merupakan cita-cita terbesar makhluk terlaknat, yaitu Iblis. Dengan perceraian akan ada dampak buruk yang sangat banyak, seperti terputusnya keturunan, peluang besar bagi manusia untuk terjerumus ke dalam zina, yang merupakan dosa yang sangat besar kerusakannya dan menjadi skandal terbanyak.” (Faidhul Qadir, 2:408).

Sebegitu kuat ambisi Iblis dan para setan sebagai tentaranya untuk menghancurkan kehidupan keluarga hingga mereka bersedia membantu setan dari kalangan manusia untuk mengerjakan sihir yang dapat memisahkan suami dengan istrinya.
disebutkan oleh Allah dalam Alquran adalah
Allah berfirman,

فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِه

“Mereka belajar dari keduanya (Harut dan Marut) ilmu sihir yang bisa digunakan untuk memisahkan seseorang dengan istrinya.” (QS. Al-Baqarah:102)

Jangan Bermudah-mudahan dalam Bercerai!!!!

Seorang suami hendaklah bergaul dengan istrinya dengan baik, karena wanita merupakan penentram jiwa lelaki. Dan sudah menjadi kewajiban yang perlu diperhatian bahwa sang suami harus member nafkah bathin yaitu memenuhi kebutuhan biologis sang wanita, karena diantara hikmah pernikahan adalah menyalurkan sex kepada yang halal dan diridhoi Allah ta’ala.

Dalam syariah islam bahwa hukumnya Wajib bagi seorang suami memuaskan istri dengan hubungan seksualnya.
Ibnu Qudamah rohimahullah menyatakan: “Berhubungan seks wajib bagi suami jika tidak ada udzur”. Al-Mughni, 7/304

Sebagaimana diketahui bahwa wanita teramat tersiksa bilamana hak ini (hubungan seks) tidak terpenuhi. Karena lelaki pun demikian.

          Perkara wajib ini adalah sebuah langkah pencegahan akan fitnah (kerusakan perselingkuhan), karena tingkat keimanan antara wanita dengan wanita lainya berbeda dan berbeda pula tingkat gairah seksnya. Dimana sebuah perkara yang dzalim bila sang suami tidak bersedia menggauli istrinya tanpa sebab yang jelas, sedang kedzaliman itu adalah haram hukumnya. Wajib disini adalah bila perkara ini tiada ditunaikan maka akan mendatangkan dosa atas pelanggaran syara’ dalam hak dan kewajiban dalam pernikahan. Dan hendaknya seorang istri menuntut haknya dan suami menuruti tuntutan istrinya atas haknya dan menjalankan kewajibanya selaku suami. Jadi kesimpulanya adalah seorang suami dibebankan kewajiban untuk menyenggamai istrinya yang dimana bila ia tidak menggauli istrinya maka ia juga dikenai dosa atas kelalaian kewajibanya dan kedzolimanya. Dan tidak istri saja yang terkena ancaman dosa bila tidak bersedia berhubungan seks. Keduanya suami dan istri saling berkewajiban untuk melakukan hubungan seks. Karena dalam masalah pernikahan keduanya memiliki satu hak antara satu dengan lainya dan satu kewajiban antara satu dengan lainya. Allah swt berfirman :

“Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.”(QS.2:228)

          Pendapat wajibnya seorang suami menyenggamai istri ini juga dikemukakan oleh Imam Malik, alasan Imam Malik adalah bahwasanya nikah adalah demi kemaslahatan suami istri dan dapat menghindarkan  bencana dari mereka. Ia (suami) melakukan hubungan untuk menolak gejolak syahwat istri, sebagaimana juga untuk menolak gejolak syahwat suami.

           Ibnu Hazm berpendapat bahwa menyenggamai istri itu hukumnya wajib, minimal sekali setelah sang istri suci jika ia mampu. Dan apabila tidak maka sang suami telah durhaka pada Allah. Dalilnya adalah firman Allah ta’ala

“Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu “(QS.Al Baqarah.222).

           Berdasarkan ayat ini Ibnu Hazm berpendapat bahwa jikalau istri selesai dari haid dan telah bersuci sang suami wajib mencampuri istrinya, apabila tidak maka ia dianggap berdosa pada Allah karena bertentangan dengan ayat tersebut.

Dan sebagian ulama berpendapat wajib senggama itu ritme waktunya adalah empat bulan seklai, sebagaimana pendapat Imam Ahmad yang dikutip Ibnu Qudamah dalam Al Mughni. Adapun ritme waktu empat bulan sekali ini bilamana sang suami bekerja denagn cara safar mukim. Maksudnya dari safar mukim adalah sebagaimana seorang pedangang yang dimana ia sering berkeliling yang terkadang ia pergi berhari-hari dan berminggu-minggu namun disatu sisi ia masih ada waktu, kesampatan dan kemampuan untuk pulang.

          Sebagian ulama lagi mewajibkan menggauli istri dengan ritme waktu empat bulan sekali. Ini berdasarkan riwayat dari Umar bin Khotob yang menyuruh tentaranya setiap empat bulan sekali pulang untuk menemui istrinya. Dalam sebuah riwayat, suatu saat Umar bertanya pada anaknya Hafzah. “ Wahai Hafzah berapa lama wanita sanggup menahan” . Hafzah terdiam dan tidak menjawab karena malu. Kemudian Umar mengerti dan berkata: “ Tidak perlu malu dalam perihal agama”. Kemudian Hafzah menjawab “ Empat bulan kami (para wanita) mampu menahan”. Setelah mendapat keterangan ini Umar memutuskan untuk menggulir tentaranya yang berada diluar untuk berganti dengan kelompok pauskan yang lain setiap empat bulan sekali, agar para suami yang menjadi tentara bisa menunaikan kewajibnya atas hak istrinya. Jadi bagi suami yang bekerja secara safar yang jauh, maka diusahakanlah setiap empat bulan sekali untuk pulang dalam rangka memenuhi hak istrinya dan menunaikan kewajibanya.

Nasehat saya kepada penanya:
Cari waktu yang cocok untuk membicarakan masalah ini dengan serius bersama suami dalam kondisi tidak sedang bertikai dengannya, kerena bias jadi sang istri sudah tidak berhias dan berdandan atau ada maslah dalam BB sehingga suami tidak menyukainya dll.  kemudia jika tidak ada jalan keluar maka carilah pemecahan masalah ini dengan menghadirkan orang tua suami agar bisa diselesaikan secara rahasia tanpa perlu campur tangan pihak luar. Karena campurtangan pihak luar keluarga adalan alternative terakhir., apalagi sampai kasus ini diangkat ke pengadilan agama atau hakim. Dan pesan saya: pertahankan kerukunan dan keutuhan rumahtangga anda. Semoga dapat membantu.
By. Abu riyadl
Di ma’hadul qur’an boyolali 10 januari2015 / 19 robiul awal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s