Kisah pemburu cinta

#Kisah Pemburu Cinta#

عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ زَوْجَ بَرِيرَةَ كَانَ عَبْدًا يُقَالُ لَهُ مُغِيثٌ كَأَنِّى أَنْظُرُ إِلَيْهِ يَطُوفُ خَلْفَهَا يَبْكِى ، وَدُمُوعُهُ تَسِيلُ عَلَى لِحْيَتِهِ ، فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – لِعَبَّاسٍ « يَا عَبَّاسُ أَلاَ تَعْجَبُ مِنْ حُبِّ مُغِيثٍ بَرِيرَةَ ، وَمِنْ بُغْضِ بَرِيرَةَ مُغِيثًا » . فَقَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « لَوْ رَاجَعْتِهِ » . قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَأْمُرُنِى قَالَ « إِنَّمَا أَنَا أَشْفَعُ » . قَالَتْ لاَ حَاجَةَ لِى فِيهِ

Dari Ikrimah dari Ibnu Abbas sesungguhnya suami Barirah adalah seorang budak yg bernama Mughits. Aku ingat bagaimana Mughits mengikuti Barirah kemana dia pergi sambil menangis (karena mengharapkan cinta Barirah, pent). Air matanya mengalir membasahi jenggotnya.
Nabi bersabda kpd pamannya, Abbas, “Wahai Abbas, tidakkah engkau heran betapa besar rasa cinta Mughits kpd Barirah namun betapa besar pula kebencian Barirah kpd Mughits.” Nabi bersabda kpd Barirah, “Andai engkau mau kembali kpd Mughits?!” Barirah mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah engkau memerintahkanku?” Nabi bersabda, “Aku hanya ingin menjadi perantara.” Barirah mengatakan, “Aku sudah tdk lagi membutuhkannya” (HR. Bukhari no. 5283)

فَأَعْتَقْتُهَا ، فَدَعَاهَا النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – فَخَيَّرَهَا مِنْ زَوْجِهَا فَقَالَتْ لَوْ أَعْطَانِى كَذَا وَكَذَا مَا ثَبَتُّ عِنْدَهُ . فَاخْتَارَتْ نَفْسَهَا

“Setelah membeli seorang budak bernama Barirah, Aisyah memerdekannya. Setelah merdeka, Nabi memanggil Barirah lalu memberikan hak pilih kpd Barirah antara tetap menjadi istri Mughits atau berpisah dari suaminya yg masih berstatus budak.

Barirah mengatakan, “Walau Mughits memberiku sekian banyak harta aku tdk mau menjadi isterinya”. Barirah memilih untuk tdk lagi bersama suaminya.” (HR. Bukhari no. 2536 dari Aisyah).

**
Dua hadits di atas mengisahkan seorang budak wanita yg bernama Barirah. Semasa dia menjadi budak, dia memiliki seorang suami yg juga seorang budak. Jadi suami istri adalah sama-sama budak. Suatu ketika pada tahun sembilan atau sepuluh Hijriyah, Aisyah membeli Barirah dari pemiliknya. Setelah menjadi miliknya, Aisyah memerdekakan Barirah dari perbudakan & ketika itu suami Barirah yaitu Mughits masih berstatus sebagai budak.

Jika seorang budak wanita yg memiliki suami itu merdeka maka dia memiliki hak pilih antara tetap menjadi istri dari suami yg masih berstatus sebagai budak ataukah berpisah dari suami yg lama untuk mencari suami yg baru.

Oleh karena itu setelah merdeka, Nabi memanggil Barirah & menyampaikan adanya hak ini kepadanya. Ternyata Barirah memilih untuk berpisah dari suaminya.

Selama rentang waktu untuk memilih inilah, Mughits selalu membuntuti kemana saja Barirah pergi. Mughits berjalan di belakang Barirah sambil berurai air mata bahkan air mata pun sampai membasahi jenggotnya karena demikian derasnya air mata tersebut keluar. Ini semua dia lakukan dalam rangka mengharap iba & belas kasihan Barirah sehingga tetap memilih untuk bersama Mughits.

Kondisi ini pun membuat Nabi merasa iba. Sampai-sampai beliau memberi saran & masukan kpd Barirah agar kembali saja kpd Mughits, suaminya. Namun Barirah adalah seorang wanita yg cerdas. Beliau tahu bahwa saran Nabi itu status hukumnya berbeda dg perintah Nabi. Oleh karenanya, Barirah bertanya kpd Nabi apakah yg Nabi sampaikan itu sekedar saran ataukah perintah seorang Nabi kpd salah satu umatnya yg wajib ditaati apapun kondisinya. Setelah Nabi menjelaskan bahwa yg Nabi sampaikan hanya sekedar saran maka Barirah menegaskan bahwa dia sama sekali tdk memiliki keinginan untuk kembali kpd Mughits.

***
* Petikan pelajaran:

1. Budak itu tdk sekufu alias setara dalam pernikahan dg orang merdeka. Oleh karena itu, Barirah memiliki hak untuk memilih antara tetap bersama Mughits ataukah berpisah untuk mencari suami yg lain.

2. Para sahabat Nabi itu memelihara jenggotnya. Di antara mereka adalah Mughits sehingga dikatakan bahwa air mata Mughits itu membasahi jenggotnya. Sehingga orang yg demikian benci dg jenggotnya sampai-sampai dikerok secara berkala adalah orang yg tdk mau meneladani para sahabat Nabi dalam masalah ini bahkan tergolong tdk mau taat kpd Nabi yg memerintahkan umatnya untuk memilhara jenggot.

Seorang laki-laki itu akan semakin gagah & berwibawa mana kala memelihara jenggot. Dikatakan bahwa Abu Hurairah suatu ketika pernah berkata,

إن يمين ملائكة السماء والذي زين الرجال باللحى والنساء بالذوائب

“Sesungguhnya ucapan sumpah para malaikat yg ada di langit adalah kalimat demi zat yg menjadikan seorang pria itu makin tampan dg jenggot & menjadikan perempuan semakin menawan dg jalinan rambut” (Tarikh Dimasyq karya Ibnu ‘Asakir tahqiq Abu Said Umar bin Gharamah al ‘Amrawi, juz 36 hal 343, terbitan Darul Fikr Beirut tahun 1416 H)

3. Saran atau nasihat Nabi itu berbeda dg perintahnya. Saran Nabi untuk person tertentu itu hasil finalnya kembali kpd pilihan person tersebut. Sedangkan perintah Nabi itu adalah sesuatu yg harus ditaati tanpa ada pilihan yg lain.

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (51)

Yang artinya, “Sesungguhnya perkataan orang-orang yg beriman, bila mereka dipanggil kpd Allah & Rasul-Nya agar Rasul memberi keputusan hukum di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar, & Kami patuh”. Dan hanya merekalah orang-orang yg beruntung.” (QS. An Nuur:51).

****
وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا (36)

Yang artinya, “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yg mukmin & tdk (pula) bagi perempuan yg mukmin, apabila Allah & Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yg lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa durhaka terhadap Allah & Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dg kesesatan yg nyata.” (QS. al Ahzab:36)

4. Kisah di atas menunjukkan bahwa cinta itu terkadang bertepuk sebelah tangan. Dalam kisah di atas nampak sekali besarnya rasa cinta Mughits kpd Barirah namun Barirah demikian benci kpd Mughits.

Cinta itu tdk harus memiliki. Terkadang rasa cinta tdk harus berujung dg pernikahan yg langgeng. Lihatlah kandasnya cinta Mughits & sebuah kenyataan pahit harus ditelan oleh Mughits yaitu tdk bisa lagi memiliki Barirah.

5. Kisah di atas juga menunjukkan bahwa cinta yg over dosis itu bisa menghilangkan rasa malu sehingga menyebabkan pelakunya melakukan berbagai hal yg sebenarnya memalukan.
 
Penulis: Ustadz Aris Munandar, S.S, M.A.
Artikel http://www.KisahMuslim.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s