CEMBURU

# CEMBURU#
Ust. Dr. M. Arifin Badri

Pahit, Namun Nyata, Karena Itu Anda Harus Waspada.
Sobat! Cemburu adalah satu hal yang sering kali menjadi awal dari permasalahan. Bukan sekedar masalah kecil, namun bisa jadi masalah yang terus membesar dan akhirnya meledak karena terlalu besar.
Rumah tangga sering kali berantakan berawal dari cemburu yang tidak dikendalikan. Sahabat berbalik menjadi musuh juga sering terjadi akibat dari cemburu yang terus diikuti.
Demkianlah seterusnya, cemburu yang tidak disikapi dengan bijak dapat menjadi awal dari permasalahan. Kondisi ini menimpa setiap lapisan masyarakat tanpa terkecuali, termasuk para ulama’, ustadz, dan da’i. Sesama mereka terjadi rasa cemburu yang harus diwaspadai dan dikendalikan. Bila tidak, niscaya terjadi permasalahan serius lalu berkembang liar kemana mana, dan akhirnya memakan korban, bukan hanya mereka namun menyeret seluruh murid dan pengikutnya.
Sahabat Ibnu Abbas mengutarakan fakta ini dan memberikan resep tepat dalam mensikapinya:
اسْتَمِعُوا عِلْمَ الْعُلَمَاءِ وَلَا تُصَدِّقُوا بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَهُمْ أَشَدُّ تَغَايُرًا مِنَ التِّيُوسِ فِي زُرُوبِهَا
Timbalah ilmu dari para ulama’, namun janganlah engkau mempercayai ucapan mereka tentang kawannya sesama ulama’. Demi Allah Yang jiwaku berada dalam genggaman-Nya, sungguh kecemburuan antara mereka itu lebih parah dibandingkan kecemburuan antara domba domba jantanyang disatukan dalam satu kandang. (jami’ bayanil ilmi wa fadhli oleh Ibnu Abdil Bar)
Fakta ini tentu terasa pahit, bahkan mungkin anda tidak percaya, namun demikianlah kenyataannya. Mungkin juga anda berkata: kok demikian, bukankah mereka itu berilmu, masak bisa terjerumuh ke dalam kecemburuan alias iri ?
Benar sobat, mereka berilmu lagi bertaqwa, namun tetap saja anda harus menyadari mereka adalah manusia biasa yang tetap saja harus menghadapi cobaan Allah dan godaan setan. Dan pada setianp cobaan dan godaan ada yang berhasil melaluinya dengan selamat namun ada pula yang terperosok.
Apapun yang terjadi pada mereka, namun tetap saja anda hanya mempertanggung jawabkan amalan anda, karena itulah kalau mereka terperosok dalam kesalahan bukan berarti anda harus ikut memerosokkan diri. Bersikaplah bijak, sebagaimana yang dipesankan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiallallahu ‘anhuma, timba ilmunya, sedangkan berbagai hal yang berbau kecemburuan sesama para ulama’, ustadz, dan da’i sepatutnya anda abaikan dan serahkan sepenuhnya kepada Allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s