KUAKUI BAHWA AKU MENCINTAINYA

# KUAKUI BAHWA AKU MENCINTAINYA … #
Ust. Abu Zubair Hawaary
(1/2)

Ya, aku memang mencintainya. Aku mencintainya mengalahkan cinta seseorg kpd kekasihnya. Bahkan manakah cinta org-org yg jatuh cinta dibanding cintaku ini?!

Ya, aku mencintainya. Bahkan demi Allah, aku merindukannya. Aku merasakan sentuhannya yg lembut, menyentuh relung hatiku. Aku tidak mendengarnya melainkan rinduku seakan terbang ke langit, lalu hatiku menari-nari & jiwaku menjadi tentram.

Aku mecintaimu duhai perkataan yg baik

Aku mencintaimu duhai perkataan yg lembut

Aku mencintaimu duhai perkataan yg santun.

Alangkah indahnya ketika seorg anak mencium tangan ibunya seraya berkata, “Semoga Allah menjagamu ibu”.

Alangkah eloknya ketika seorg ayah senantiasa mendo’akan anaknya, “Ya Allah ridhoilah mereka, & bahagiakan mereka di dunia & akhirat”.

Alangkah bagusnya ketika seorg istri menyambut kedatangan suaminya dengan senyuman seraya berkata, “Semoga Allah tidak menjauhkan kami darimu, rumah ini serasa gelap tanpa dirimu”.

Alangkah baiknya ketika istri melepaskan kepergian suami bekerja di pagi hari, ia berkata, “Jangan beri kami makan dari yg haram, kami tidak sanggup memakannya”.

Kalimat & ungkapan yg indah, bukankah begitu? Bukankah kita berharap kalimat & ungkapan seperti ini dikatakan kpd kita? Bukankah setiap kita berangan-angan mengatakan kalimat-kalimat seperti ini kpd org-org yg dicintainya? Akan tetapi kenapa kita tidak atau jarang mendengarnya?

Penyebabnyanya adalah kebiasaan. Barangsiapa yg membiasakan lisannya mengucapkan kata-kata yg lembut berat baginya untuk meninggalkannya, begitu pula sebaliknya.

Org yg terbiasa memanggil istrinya dengan kata “kekasihku” sulit baginya memanggil istrinya seperti sebagian org memanggil istrinya, ‘Hei ..hai ..”. atau “Kau ..” & lain sebagainya.

Barangsiapa yg terbiasa memulai ucapannya kpd anaknya, “Ananda, Anakku, Putriku” tidak seperti sebagian lain yg mengatakan, “Bongak .. jahat ..setan!” maka ia berat mengucapkan selain itu.

Bersambung (2/2)

Lanjutan…
# KUAKUI BAHWA AKU MENCINTAINYA … #
Ust. Abu Zubair Hawaary
(2/2)

Kenapa kita tidak bisa mengucapkan satu ungkapan cinta saja kpd anak-anak kita, ibu kita, & keluarga kita? Jika adapun kalimat tersebut keluar dengan malu-malu.

Kenapa lisanmu terkunci di dekat istrimu atau dihadapan ayah & ibumu, sedangkan dihadapan temanmu, kata-katamu begitu mesra?!

Biasakanlah – misalnya- mengucapkan kpd ibumu, “Ibu, do’akan kami. Apakah ibu ingin titip sesuatu agar ananda beli sebelum ananda berangkat?”

Biasakanlah mengucapkan kpd anakmu kata-kata (sayangku, anakku) & apabila ia mengambilkan sesuatu untukmu seperti segelas air katakana kepadanya Jazakallah atau ungkapan terima kasih.

Jika putra atau putrimu meminta sesuatu darimu & engkau sanggup memberikannya serta itu baik untuknya katakanlah kpd mereka dengan tulus, “Dengan sepenuh hati, ayah akan bawakan untukmu”.

Cobalah kata-kata & kalimat yg lembut & senyuman yg manis, lalu lihatlah hasilnya!

Lihatlah bagaimana Nabi kita shollallahu ‘alaihi wa sallama berbicara kpd anak istrinya.

Perhatikanlah kelembutan hatinya, serta keindahan tutur katanya.

Beliaulah sebaik-baik suri teladan.

***

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s