PERANGAI MULIA

# PERANGAI MULIYA #
Ust. Rochmad supriyadi LC

Jika kita mengarungi kehidupan ini banyak sekali kita temukan berbagai hal yg mungkin tidak masuk di akal dan sulit di cerna olih pikiran maupun perasaan.

Diantaranya apa yang diriwayatkan Sahabat Muliya Abu Hurairah rodhiyallahu anhu dari Nabi صلى الله عليه وسلم bersabda,” Tidaklah harta akan berkurang lantaran sedekah, tidaklah seorang hamba memberikan maaf kecuali menambah baginya kemuliyaan, dan tidaklah seorang hamba merendahkan hati karena Allah. kecuali Allah akan mengangkat derajat nya “. HR Muslim.

Berkata Syeh Abdurrohman As-Sa’dy rohimahullah ,” Hadist ini membicarakan keutamaan sedekah, memberi maaf bagi yg berbuat salah, dan anjuran agar tawadhu’ atau rendah hati dan merendahkan diri karena Allah, serta disebutkan pula buah dan hasil dari perangai tersebut segera maupun akan datang, serta dijelaskan pula ketidak benaran prasangka yg kliru dari berkurangnya harta tatkala disedekahkan, hilangnya kemuliyaan tatkala memberi maaf, serta tidak. terangkatnya derajat bagi yg melakukan rendah hati. Ini adalah prasangka yg salah dan kliru, lagi tidak benar.

Harta tidak akan berkurang lantaran bebuat sedekah, jika di anggap. berkurang dari sisi nominal, maka sungguh harta tersebut bertambah dari sisi lain, seperti menjadi barokah, terhindar dari petaka dan. bencana serta terbebas dari berbagai keburukan, bahkan menjadi bertambahnya harta yg di infakkan tersebut, serta membukakan pintu rizki bagi pemiliknya dan menjadi banyak. dan melimpah. Apakah sebanding berkurangnya harta tersebut bila disejajarkan aneka keberkahan dan. selamat dari keburukan ???

Sedekah yg benar-benar karena. mencari wajah Allah dan sesuai porsi nya tidak akan mengurangi harta, hal ini sesuai apa yg di nyatakan Nabi صلى الله عليه وسل م , demikiyan pula kita saksikan banyak kejadian dan banyak pengalaman yg menjadi bukti. Itu semua terlepas dari pahala yg banyak dan ganjaran yg berlipat yg akan Allah berikan kelak diakhirat.

Adapun memberikan maaf bagi orang yg berbuat jahat dan keburukan baik dengan perbuatan dan ucapan maka jangan dianggap ini merupakan sikap hina dan kehinaan, akan tetapi ini adalah mulia dan kemuliyaan. Karena ini lah kemuliyaan yg hakiki disisi Allah dan para makhluk nya, walau sesungguh nya ia mampu menuntut balas dan dendam pada musuhnya.

Diantara hikmah memberikan maaf adalah mendapatkan kebaikan dan sanjungan dihadapan makhluk serta berubahnya musuh menjadi kawan, serta mendapat dukungan secara ucapan dan perbuatan dari berbagai kalangan dihadapan lawannya, dan balasan Allah terhadap hamba sesuai kadar amal perbuatan, jika ia memberi maaf, niscaya Allah سبحانه وتعالى memberikan maaf atas kesalahan-kesalahannya, demikiyan pula orang yg bertawadhu’ rendah hati karena Allah dihadapan para hamba, niscaya Allah akan menganggkat derajatnya.

Allah سبحانه وتعالى menyebutkan pengangkatan derajat dalam firman Nya ,” Allah mengangkat derajat orang-orang yg beriman dan berilmu diantara kaliyan dengan beberapa derajat “. QS Al Mujadilah 11.

Diantara buah ilmu dan iman adalah tawadhu’ rendah hati, karena didalamnya mengandung konsisten terhadap kebenaran, tunduk terhadap perintah Allah dan Rosul Nya, serta berendah hati dihadapan makhluk. Allah, dihadapan kaum tua, dan muda, berpangkat maupun tdk berpangkat, dan lawan itu semua adalah sikap sombong yaitu menolak kebenaran dan merendahkan martabat manusia.

Ketiga perangai didalam hadist diatas merupakan bagiyan sifat orang yg muhsin.

Kelompok pertama ia berbuat ihsan dengan hartanya, ia memberikan hartanya kepada orang yg membutuhkan.

Kelompok kedua ia berbuat ihsan dengan sikapnya yg memberi maaf atas kesalahan orang.

Dan yg ketiga kelompok yg berbuat ihsan dg akhlaknya dengan merendah hati dihadapan makhluk.

Kalimat ” Tidak seseorang tawadhu’ rendah hati karena Allah “, ini selayaknya diperhatikan agar berniyat lurus dan ikhlas karena mencari wajah Allah semata dalam bersikap rendah hati, karena sebagian manusia terkadang ia menampakkan tawadhu’ rendah hati dihadapan orang kaya agar ia mendapat sebagian dunia mereka, atau dihadapan para penguasa dan berjabatan agar ia mendapat tujuan yg ia sembunyikan. Dan terkadang seseorang tawadhu’ lantaran riya agar dilihat dan didengar.

Semua tujuan ini adalah tidak dibenarkan dan tdk akan membawa manfaat, kecuali bila ia tawadhu’ karena Allah semata dalam rangka ibadah kepada Allah, mencari pahala dan berbuat ihsan pada makhluk yg disertai keihlasan kepada Allah.

– Syarah Arbain Syeh Abdurrohman As-Sa’dy 108 –

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s