Mudlarat merayakan tahun baru

Badru Salam: #Mudlarat merayakan tahun baru#

1. Menyerupai kaum kuffar.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.” (HR Abu Dawud).
Hadits ini menunjukkan bahwa menyerupai kaum kuffar adalah haram, bahkan bisa sampai tingkat kekafiran bila disertai dengan keridlaan terhadap syi’ar mereka.

2. Berbuat bid’ah dalam agama.
Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya tidak pernah merayakan tahun baru, tidak pula salafushalih dan para ulama setelahnya. Kalaulah itu baik, tentu sudah di dahului oleh mereka.

3. Berbuat maksiat.
Dengan bercampur baurnya antara laki-laki dan wanita di jalan-jalan dan di tempat tempat hiburan, sehingga menjerumuskan kepada zina dan maksiat lainnya.

4. Menghabiskan waktu sia-sia.
Waktu kelak akan dipertanyakan oleh Allah, dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Diantara baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat.” (HR At Tirmidzi).

5. Menghamburkan uang sia-sia.
Dengan membeli petasan kembang api yang harganya bisa jutaan rupiah, terompet dan lainnya. Semua itu termasuk mubadzir, dan orang-orang mubadzir adalah teman-teman syeithan.

6. Dan lain-lain.
Badru Salam: #Sikap muslim terhadap tahun baru#

1. Meyakini bahwa pergantian tahun tidak ada bedanya dengan pergantian hari demi hari, bulan demi bulan. Ia berjalan dengan perintah Allah menuju batas yang Allah telah tetapkan. Maka tidak ada keutamaan malam tertentu kecuali bila ditunjukkan oleh dalil.

2. Menyadari bahwa pergantian tahun itu mendekatkan kita kepada ajal. Bila ajal kita sampai tahun 2020 misalnya, berarti ajal kita tinggal beberapa tahun lagi. Semakin melaju, ajalpun semakin mendekat. Maka seharusnya kita bersiap-siap menuju kematian dan banyak menangisi dosa, bukan bergembira dengan merayakannya dan berbuat dosa. Na’udzu billah..

3. Sebagian kaum muslimin, ada yang merayakan tahun baru dengan cara berbuat bid’ah, seperti dzikir bersama, muhasabah akhir tahun bersama dan sebagainya. Alasannya: daripada meniup terompet dan berbaur dalam dosa, lebih baik kita dzikir bersama. Padahal kaidah yang hendaknya kita fahami adalah bahwa dosa tidak boleh dibalas dengan bid’ah.

4. Melewati malam tahun baru sama dengan malam-malam lainnya dengan tahajjud dan mendekatkan diri kepada Allah, tidak ada keistimewaan tertentu di malam tahun baru.

by Abu Hamzah Suparwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s