TATA CARA PENYEMBELIHAN HEWAN KURBAN

TATA CARA PENYEMBELIHAN HEWAN KURBAN

Oleh
Shidiq Hasan Khan
[ke-satu dari 3, 1/3]

[1]. DISYARIATKAN BAGI SETIAP KELUARGA

Berdasarkan hadits Abu Ayyub Al-Anshary, ia berkata :

“Artinya : Di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ada seorg berkurban dg seekor kambing untuknya & keluarga-nya.” [1] [Dikeluarkan Ibnu Majah & At-Tirmidzi & di shahihkannya & dikeluarkan Ibnu Majah semisal hadits Abu Sarihah [2] dg sanad shahih]

Dan dikeluarkan juga oleh Imam Ahmad, Abu Dawud & An-Nasa’i dari hadits Mikhna bin Salim, bahwa dia mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Artinya : Wahai sekalian manusia atas setiap keluarga pd setiap tahun wajib ada sembelihan (udhiyah)” [3]. [Di dlm sanadnya trdp Abu Ramlah & namanya adalah ‘Amir. Al-Khaththabi berkata : majhul [4].

Jumhur berpendapat bahwa hukum berkurban adalah sunnah, bukan wajib. Demikianlah yg dikatakan oleh Imam Malik. Dan (beliau) berkata : “Saya tdk menyukai seseorg yg kuat (sanggup) u/ membelinya (binatang kurban) lalu dia meninggalkannya” [5] Dan demikian pula Imam Syafi’i berpendapat.

Adapun Rabi’ah & Al-Auza’i & Abu Hanifah & Al-Laits, & sebagian pengikut Malikiyah berpendapat bahwa hukumnya wajib terhadap yg mampu. Demikian pula yg diceritakan dari Imam Malik & An-Nakha’iy.[6].

Orang-org yg berpendapat akan wajibnya (berkurban) berpegang pd hadits :

“Artinya :Tiap-tiap ahli bait (keluarga) harus ada sembelihan (udhiyah) “.

Yaitu hadits yg terdahulu, & juga hadits Abu Hurairah yg diriwayatkan Imam Ahmad & Ibnu Majah serta di dishahihkan Al-Hakim. Ibnu Hajar dlm kitabnya Fath-Al-Bari berkata :”Para perawinya tsiqah (terpercaya) namun diperselisihkan marfu’ & mauquf-nya. Tetapi lebih benar (jika dikatakan) mauquf.

Dikatakan Imam Thahawi & lainnya, [7] berkata : “Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

**1
“Artinya : Barangsiapa yg mempunyai keleluasaan (u/ berkurban) lalu dia tdk berkurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.”
Diantara dalil yg mewajibkan (berkurban) adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

“Artinya : Maka dirikanlah shalat karena Rabb-mu & berkurbanlah”. [8].

Dan perintah menunjukkan wajib. Dikatakan pula bahwa yg dimaksudkan adalah mengkhususkan penyembelihan hanya u/ Rabb, bukan u/ patung2 [9].

Diantaranya juga adalah hadits Jundub bin Sufyan Al-Bajaly dlm shahihain [10] & lainnya, berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Siapa yg menyembelih sebelum dia shalat maka hendaklah dia menyembelih sekali lagi sebagai gantinya. Dan barang siapa yg belum menyembelih hingga kami selesai shalat, maka hendaklah dia menyembelih dg (menyebut) nama Allah”.

Dan disebutkan dari hadits Jabir semisalnya. [11]

Berdasarkan dg hadits :

“Artinya : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban u/ org tdk berkurban dari umatnya dg seekor gibas” [12].

Sebagaimana trdp pd hadits Jabir yg diriwayatkan Ahmad & Abu Dawud & At-Tirmidzi, & dikeluarkan semisalnya oleh Ahmad & At-Thabrani & Al-Bazzar dari hadits Abu Rafi’ dg sanad yg hasan. Jumhur berpendapat u/ menjadikan hadits ini sebagai qarinah (keterangan) yg memalingkan dalil-dalil yg mewajibkan.

Tidak diragukan lagi bahwa (keduanya) mungkin u/ dijamak (gabung). Yaitu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkurban u/ org-org yg tdk memiliki (tdk mampu menyembelih) sembelihan dari umatnya, sebagaimana dijamaknya hadits :

“Artinya : Orang yg tdk menyembelih dari umatnya”.

Dengan hadits.

“Artinya : Atas setiap keluarga ada kurban”.

Adapun hadits :

“Artinya : Aku diperintahkan berkurban & tdk diwajibkan atas kalian”. [13]

Dan yg semisal hadits ini tdk bisa dijadikan hujjah, karena pd sanad-sanadnya ada yg tertuduh berdusta & ada yg dha’if sekali.

**2
[2]. KURBAN DILAKUKAN PALING SEDIKIT SEEKOR KAMBING

Berdasarkan hadits yg terdahulu. Al-Mahally berkata :”onta & sapi cukup u/ tujuh org. Sedangkan seekor kambing mencukupi u/ satu org. Tapi apabila mempunyai keluarga, maka (dg seekor kambing itu) mencukupi u/ keseluruhan mereka. Demikian pula dikatakan bagi setiap org diantara tujuh org yg ikut serta dlm penyembelihan onta & sapi. Jadi berkurban hukumnya sunnah kifayah (sudah mencukupi keseluruhan dg satu kurban) bagi setiap keluarga, & sunnah ‘ain (setiap org) bagi yg tdk memiliki rumah (keluarga).

Menurut (ulama) Hanafiah, seekor kambing tdk mencukupi melainkan u/ seorg saja. Sedangkan sapi & onta tdk mencukupi melainkan u/ tiap tujuh org. Mereka tdk membedakan antara yg berkeluarga & tdk. Menurut mereka berdasarkan penakwilan hadits itu maka berkurban tidaklah wajib kecuali atas org-org yg kaya. Dan tidaklah org tsb dianggap kaya menurut keumuman di zaman itu kecuali org yg memiliki rumah. Dan dinisbatkannya kurban tsb kpd keluarganya dg maksud bahwa mereka membantunya dlm berkurban & mereka memakan dagingnya serta mengambil manfa’atnya.[14]

Dan dibenarkan mengikutsertakan tujuh org pd satu onta atau sapi, meskipun mereka adalah dari keluarga yg berbeda-beda. Ini merupakan pedapat para ulama. Dan mereka mengqiyaskan kurban tsb dg al-hadyu. [15]

Dan tdk ada kurban u/ janin (belum lahir). Ini adalah perkataan ulama. [16]

[Disalin dari Kitab Ar-Raudhatun Nadhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, karangan Abu-At-Thayyib Shidiq Hasan bin Ali Al-Hushaini Al-Qanuji Al-Bukhari oleh Abu Abdirrahman Asykari bin Jamaluddin Al-Bugisy, & dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 22/II/1417H-1997M]

**3
_________
Foote Note.
[1]. Diriwayatkan oleh At-Tarmidzi, kitab Al-Adhahi V/8/1541 dlm Tuhfah-Al-Ahwadzi, & Ibnu Majah, kitab Al-Adhahi bab Orang yg menyembelih seekor kambing u/ keluarganya II/3147. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dlm Shahih AT-Tirmidzi II/1216, & Shahih Ibnu Majah II/2546.
[2]. Di dlm kitab Ar-Raudhatun Nadiyah tertulis “syariihah” dg hurup syin. Ini adalah salah, yg benar adalah “Sariihah” dg hurup siin, seperti yg trdp pd kitab Sunan Ibnu Majah. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani dlm Shahih Ibnu Majah II/2547 dg lafadz : Keluargaku membawaku kpd sikap meremehkan setelah aku tahu bahwa itu termasuk sunnah. Ketika itu penghuni rumah menyembelih kurban dg satu & dua ekor kambing, & sekarang tetangga kami menuduh kami bakhil.
[3]. Berkata Al-Jauhary : Berkata Al-Ashmi’iy : Terdapat 4 bahasa dlm penyebutan Udhiyah & Idhiyah …. dst (Lihat Syarah Shahih Muslim oleh An-Nawawi VIII/13, hal. 93 Cet. Daarul Kutub Al-Ilmiyah, Beirut-Lebanon.
[4]. Berkata Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalani : Tidak dikenal …. (Lihat : Taqrib At-Tahdzib, oleh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, No. 3130 hl. 479, pentahqiq : Abul Asybaal Shaghir Ahmad Syaqif Al-Baqistani, penerbit : Daarul ‘Ashimah, Al-Mamlakah Al-‘Arabiyah As-Su’udiyah).
[5]. Muwatha ‘ Imam Malik, Juz II, hal. 38, Syarh Muwatha’ Tanwir Al-Hawaalik, pen. Daarul Kutub Al-Ilmiyah.
[6]. Lihat perselisihan para ulama & ahli dalil mereka dlm kitab : Bidayah Al-Mujtahid oleh Ibnu Rasyd I/314 & Al-Fiqh Al-Islami wa Adilatuhu oleh Dr. Wahbad Al-juhaili, Juz III/595-597. cet. Darul fikr.
[7]. Fath Al-Bari, Ibnu Hajar, jilid X, halaman 5, cet. Daar Ar-Rayyan li at Turats. Dan beliau juga berkata dlm Bulughul Maram : Namun para Imam mentarjihnya mauquf. (Bulughul Maram, bab : Adhahiy, No. 1349, bersama Ta’liq Al-Mubarakfuri, cet. Jam’iyah Ihya At-Turats Al-Islami). Namun hadits ini tdk menunjukkan wajib menurut jumhur. Wallahu a’lam.
[8]. Al-Qur’an Surat Al-Kautsar : 2
[9]. Kedua tafsiran ini disyaratkan oleh Ibnu Katsir di dlm tafsirnya, namun Ibnu Katsir merajihkan maknanya menyembelih hewan kurban, wallahu a’laam. (Tafsir Ibnu Katsir, jilid IV, hal. 559-560 cet. Al-Maktabah At-tijariyah, Makkah)
[10]. Riwayat Bukhari kitab Al-Adhahiy, bab : Man Dzabaha qobla as-shalah a’aada, X/12 No. 5562, & Muslim kitab Al-Adhahi, bab : Waqtuha : XIII/35 No. 1960, Syarh Nawawi. Dan Lafazh ini adalah Lafzh Muslim.
[11]. Saya belum mendapatkan ada yg semakna dg hadits tsb. Diriwayatkan dari Al-Barra’ bin ‘Azib seperti dlm Shahihain & kitab-kitab Sunan. Wallahu a’lam.
[12]. Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi bab : maa jaa’a anna asy-syah al-wahidah tujzi’u’an ahlil bait : V No. 1541 dalan At-Tuhfah & Abu Dawud bab : Fisy-syaah Yuhadhahhi Biha ‘An Jama’ah, No. 2810, & dishahihkan Al-Albani dlm shahih Abu-Dawud : II/2436, & Irwa’ al-ghalil, IV/1138.
[13]. Dijelaskan oleh Ibnu Hajar Asqalani dlm Fath Al-Bari X/6, & kitab beliau Al-Khasa-is fi Takhrij Ahadits Ar-Rafi’. & demikian juga Asy-Syaukani di kitabnya Nailul Authar V/126.
[14]. Lihat kitab Bidayah Al-Mujtahid I/317.
[15]. Al-Hadyu yg disembelih di tanah haram dari hewan ternak, dlm Al-Qur’an. (Lihat Al-Mu’jam Al-Wasith : 978)
[16]. Adapun berkurban bagi anak kecil yg belum baligh, menurut Hanafiah & Malikiyah : Disukai berkurban dari harta walinya, & tdk disukai menurut madzhab Syafi’iyah & Hanabilah. (Al-Fath Al-Islami, oleh Wahbah Al-Jihaili III/604)

***4

[3]. WAKTUNYA SETELAH MELAKSANAKAN SHALAT IEDUL KURBAN

Berdasarkan sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Barangsiapa menyembelih sebelum shalat hendaklah menyembelih sekali lagi sebagai gantinya, & siapa yg belum menyembelih hingga kami selesai shalat maka menyembelihlah dg bismillah”.

Terdapat dlm Shahihain [17]

Dan di dlm shahihain dari hadits Anas dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Siapa yg menyembelih sebelum shalat maka hendaklah dia mengulangi”. [18]

Berkata Ibnul Qayyim :”Dan tdk ada pendapat seseorang dg adanya (perkataan) Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yg ditanya oleh Abu Burdah bin Niyar tentang seekor kambing yg disembelihnya pd hari Ied, lalu beliau berkata :

“Artinya : Apakah (dilakukan) sebelum shalat ? Dia menjawab : Ya. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata : Itu adalah kambing daging (yakni bukan kambing kurban) “. [Al-Hadits].

Ibnu Qayyim berkata : “Hadits ini shahih & jelas menunjukkan bahwa sembelihan sebelum shalat tdk dianggap (kurban), sama saja apakah telah masuk waktunya atau belum. Inilah yg kita jadikan pegangan secara qath’i (pasti) & tdk diperbolehkan (berpendapat) yg lainnya. Dan pd riwayat tersebut trdp penjelasan bahwa yg dijadikan patokan (berkurban) adalah shalatnya Imam”.

[4]. AKHIR WAKTUNYA ADALAH DI AKHIR HARI-HARI TASYRIQ

Berdasarkan hadits Jubair bin Mut’im dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bersabda :

“Artinya : Pada setiap hari-hari tasyriq ada sembelihan”. [20]. [Dikeluarkan Imam Ahmad & Ibnu Hibban dlm shahihnya & Al-Baihaqi. Dan trdp jalan lain yg menguatkan antara satu dg riwayat yg lainnya. Dan juga diriwayatkan dari hadits Jabir & lainnya. Dan ini diriwayatkan segolongan dari shahabat. Dan perselisihan dlm perkara ini adalah ma’ruf].

Di dlm Al-Muwatha’ dari Ibnu Umar :

“Artinya : Al-Adha (berkurban) dua hari setelah dari Adha”. [21].

Demikian pula dari Ali bin Abi Thalib. Dan ini pendapat Al-Hanafiah & madzhab Syafi’iyah bahwa akhir waktunya sampai terbenamnya matahari dari akhir hari2 tasyriq berdasarkan hadits Imam Al-Hakim yg menunjukan hal tersebut.[22]

[5]. SEMBELIHAN YANG TERBAIK ADALAH YANG PALING GEMUK

Berdasarkan hadits Abu Rafi’:

“Artinya : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bila berkurban, membeli dua gibas yg gemuk ” [23] [Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad & lainnya dg sanad Hasan].

Dan dikeluarkan oleh Imam Bukhari dari hadits Abu Umamah bin Sahl berkata :

“Artinya : Adalah kami menggemukkan hewan kurban di Madinah & kaum Muslimin menggemukkan (hewan kurbannya)”. [24]

Saya katakan, bahwa kurban yg paling afdhal (utama) adalah gibas (domba jantan) yg bertanduk. Sebagaimana yg trdp pd suatu hadits dari Ubadah bin Ash-Shamit dlm riwayat Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Hakim & Al-Baihaqi secara marfu’ dg lafadzh:

“Artinya : Sebaik2 hewan kurban adalah domba jantan yg bertanduk”. [25] [Dan juga dikeluarkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Majah & Al-Baihaqi dari hadits Abu Umamah & di dlm sanadnya trdp ‘Ufair bin Mi’& & dia Dha’if]. [26].

Al-Udhiyah (sembelihan kurban) yg dimaksud bukanlah Al-Hadyu. Dan trdp pula nash pd riwayat Al-Udhiyah, maka nash wajib didahulukan dari qiyas (mengqiyaskan udhiyah dg Al-Hadyu), & hadits : “Domba jantan yg bertanduk”. adalah nash diantara perselisihan ini.

Apabila dikhususkan berqurban dg domba berdasarkan zhahir hadits, & bila meliputi yg lainnya, maka termasuk yg dikebiri. Tetapi yg utama tidaklah dikhususkan dg hewan yg dikebiri. Adapun penyembelihan kurban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berupa hewan yg dikebiri tdk menunjukkan lebih afdhal dari yg lainnya, namun yg ditujuk pd riwayat tersebut bahwa berkurban dg hewan yg dikebiri adalah boleh. [27]

[6]. TIDAK MENCUKUPI KURBAN ADA YANG DIBAWAH AL-JADZ’U [28] [KAMBING YANG BERUMUR KURANG DARI SATU TAHUN].

Berdasarkan hadits Jabir dlm riwayat Muslim & selainnya berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Janganlah engkau menyembelih melainkan musinnah (kambing yg telah berumur dua tahun) kecuali bila kalian kesulitan maka sembelihlah Jadz’u (kambing yg telah berumur satu tahun)” [29].

Dan dikeluarkan oleh Ahmad & At-Tirmidzi dari Abu Hurairah berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersbada.

“Artinya : Sebaik2 sembelihan adalah kambing Jadz’u”. [30]

Dikeluarkan pula oleh Ahmad & Ibnu Majah, Al-Baihaqi & At-Thabrani dari hadits Ummu Bilal binti Hilal dari bapaknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Boleh berkurban dg kambing Jadz’u”. [31]

Di dlm shahihain dari hadits ‘Uqbah bin ‘Amir berkata.

“Artinya : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagi2 hewan kurban pd para shahabatnya, & ‘Uqbah mendapatlan Jadz’ah. Lalu saya bertanya : Wahai Rasulullah, saya mendapatkan Jadz’u. Lalu beliau menjawab : Berkurbanlah dengannya”. [32]

Jumhur berpendapat bahwa boleh berkurban dg kambing Jadz’u. Dan barang siapa yg beranggapan bahwa kambing tdk memenuhi kecuali u/ satu atau tiga org saja, atau beranggapan bahwa selainnya lebih utama maka hendaklah membawakan dalil. Dan tidaklah cukup menggunakan hadits Al-Hadyu sebab itu adalah bab yg lain. [33].

[Disalin dari Kitab Ar-Raudhatun Nadhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, karangan Abu-At-Thayyib Shidiq Hasan bin Ali Al-Hushaini Al-Qanuji Al-Bukhari oleh Abu Abdirrahman Asykari bin Jamaluddin Al-Bugisy, & dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 22/II/1417H-1997M]
_________
Foote Note.
[17]. Lihat No. 10
[18]. Riwayat Bukhari, kitab Al-Adhahi, bab : Man dzahaba qubla as-shalah a’aada X/12/5561 dg Fath Al-Bari. Dan Muslim, kitab Al-Adhahi, bab : Waqtuha XIII/35/No. 1962, dg Syarh Nawawi, ini merupakan potongan hadits yg panjang.
[19]. Riwayat Muslim, bab : Waqt a-Adhahi XIII/35?no. 1961 & lainnya.
[20]. Hadit ini dikeluarkan oleh Imam Ahmad IV/82 & lainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al-Arnauth dlm tahqih Zaadul Maad oleh Ibnul Qayyim, & beliau menyebutkan beberapa jalan dari riwayat ini. (Lihat Zaadul Maad II/318 cetakan Muasasah Risalah).
[21]. Riwayat Imam Malik di dlm Al-Muwatha’, kitab Adh-Dhahaya, bab Adh-Dhahiyatu ‘amma fil batnil mar’ah wa dzikir ayyamil adhaa II/38, At-Tanwir, dari Nafi’ dari Abdullah bin Umar.
[22]. Perselisihan ulama dlm hal ini ma’ruf, lihat Subulus Salam IV/92. cet. Daarul Fikr.
[23]. Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dlm Musnadnya VI hal 391,dari Abu ‘Amir dari Zuhair dari Abdullah bin Muhammad dari Ali bin Husain dari Abu Rafi’, bahwa Rasulullah bila hendak berkurban, membeli dua domba yg gemuk, bertanduk, & sangat putih…” al-hadits. Pada sanadnya trdp perawi yg bernama Abdullah bin Muhammad bin Uqail, perawi ini dibicarakan oleh para ulama (Lihat : Tahdzibu At-Tahdzib VI/13). Berkata Al-Hafidz : Shaduq, dlm haditsnya ada kelemahan & dikatakan pula : berubah pd akhir (hayat)nya. (Taqrib At-Tahdzib 3617).
[24]. Dikeluarkan oleh Bukhari dlm shahihnya secara ta’liq X/7 bab: Udhiyatun Nabi bi kabsyaini aqranain. Dan atsar ini disambung sanadnya oleh Abu Nu’aim dlm Mustakhrij dari jalan Ahmad bin Hanbal dari Ubbad bin Al-‘Awwam berkata : Mengabarkan kepadaku Yahya bin Sa’id Al-Anshari dari lafadznya : Adalah kaum muslimin salah seorang mereka membeli kurban, lalu menggemukkan (mengebiri)nya & menyembelihnya pd akhir Dzul Hijjah. (Fath al Bari).
[25]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab : Karahiyatul Mughalah fil kafan III/3156, dari Ubadah bin Ash-Shamit. Dan Diriwayatkan pula oleh yg lainnya. Hadits ini di dha’ifkan Al-Abani dlm Dha’if al-Jami’ ash-Shagir No. 2881.
[26]. Ibnu Hajar mengatakan : dha’if (Taqrib at-Tahdzib, No. 4660) tahqiq Abul Asybaal Al-Baakistani.
[27]. Berkata Al-Hafizh Ibnu Hajar : Setelah menyebutkan beberapa riwayat : Padanya trdp dalil bolehnya mengebiri dlm berkurban, & sebagian ahli ilmu membencinya karena mengurangi anggota badan. Namun ini bukanlah cacat karena mengebiri menjadikan dagingnya baik, dg menghilangkan bau busuk. (Fath al-Bari X/12).
[28]. Al-Jadz’u, berkata Al-Hafidz : Yaitu sifat bagi umur tertentu dari hewan ternak. Maka dari kambing adalah yg berumur satu tahun menurut jumhur. Dan dikatakan pula, kurang dari itu. Kemudian berbeda pendapat dlm penetuannya. Dikatakan : berumur 6 bulan & ada yg berkata 8 bulan & dikatakan pula 10 bulan. At-Tirmidzi menukilkan dari Waki’ bahwa yg dimaksud adalah 6 atau 7 bulan (Fath al-Bari X/7). Berkata An-Nawawi : Al-Jadzu’ dari kambing adalah yg berumur setahun penuh. Ini yg shahih menurut madzhab kami. Ini yg paling masyhur menurut ahli bahasa & lainnya (Syarh Muslim XIII/100). Dan Al-Hafidz berkata pula : Al-Jadz’u dari Ma’az adalah berumur masuk pd tahun kedua, sapi (lembu) berumur 3 tahun penuh & onta berumur lima tahun (Fath al-Bari X/7). Adh-Dha’n, berkata Ibnul Atsir dlm An-Nihayah : Adh-Dhawa’in : Jamak dari dha’inah, yaitu kambing yg berbeda dg Ma’z (An-Nihayah fi gharibil hadits, III/69, cet. Al-Maktabah Al-Islamiyah). Di sini saya menyebut Dha’n dg kambing sebagai pembeda dg ma’z (di Jawa, maz itu disebut sebagai kambing jawa).
[29]. Riwayat Muslim, bab sinnul Udhiyah XIII/35/1963, Syarh Nawawi. Dan Ibnu Majah, bab : maa Tafzi’u minal adhahi No. 3141. Namin hadits ini di dha’ifkan oleh syaikh Al-Albani karena pd sanadnya trdp perawi yg bernama Abu Zuhair & ia mudallis, riwayatnya tdk diterima kecuali bila menjelaskan bahwa dia mendengar dari syaikhnya Lihat penjelasan panjang di Dha’if Ibnu Majah No. 676, hal 248, & Irwa’ul Ghallil 1145, Silsilah Hadits Dha’ifah juz I halaman 91. Al-Musinnah : adalah gigi seri dari tiap sesuatu, berupa onta, lembu, kambing & lainnya. (Syarh Nawawi XIII/99).
[30]. Hadits ini di Dha’ifkan oleh Al-Albani dlm Irwa’ul Ghalil IV/1143 & silsilah hadits dha’ifah I/64.
[31]. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab :maa Tajzi’u minal adhahi II/7/No. 3139 & lainnya. Hadist ini di dha’ifkan oleh Al-Albani dlm dha’if Ibnu Majah No. 3139.
[32]. Bukhari, bab : Qismatul Imam Al-Adhahi bainan naas X/2/No. 5547, Al-Fath & Muslim, bab : Sinnul Udhiyah XIII/2/No. 1965, An-Nawawi.
[33]. Al-Hadyu adalah apa yg disembelih menuju tanah haram dari binatang ternak. Di dlm Al-Qur’an Surat Al-Baqarah : 196 (Mu’jam Al-Wasith 978).

TATA CARA PENYEMBELIHAN HEWAN KURBAN

Oleh
Shidiq Hasan Khan
Bagian Terakhir dari Tiga Tulisan [3/3]

[7]. DAN TIDAK MENCUKUPI SELAIN DARI MA’ZUN [SEJENIS KAMBING YANG KURANG DUA TAHUN]

Berdasarkan hadits Abu Burdah dlm shahihain & lainnya bahwa dia berkata :

“Artinya : Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mempunyai hewan ternak ma’zun jadz’u. Lalu beliau berkata : Sembelihlah, & tdk boleh u/ selainmu”. [34]

Adapun yg diriwayatkan dlm Shahihain & lainnya dari hadits ‘Uqbah, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kpd para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu yg tersisa adalah ‘Atud (anak ma’az). Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam diberitahu, lalu beliau menjawab :

“Artinya : Berkurbanlah engkau dg ini”.

Al-‘Atud adalah anak ma’az yg umurnya sampai setahun.

Dikeluarkan pula oleh Al-Baihaqi dg sanad yg shahih bahwa ‘Uqbah berkata :”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membagikan kambing kpd para shahabatnya sebagai hewan kurban, lalu tersisa ‘atud. Maka beliau berkata :

“Artinya : Berkurbanlah engkau dengannya & tdk ada rukhsah (keringanan) terhadap seseorang setelah engkau”. [35]

Sedangkan Al-Imam An-Nawawy menukil kesepakatan bahwa tdk mencukupi Jadz’u dari ma’az. [36]

Saya (Shidiq Hasan Khan) katakan :”Mereka sepakat bahwa tdk boleh ada onta, sapi & ma’az kurang dari dua tahun. Dan kambing Jadz’u boleh menurut mereka & tdk boleh hewan yg terpotong telinganya. Namun Abu Hanifah berkata : “Apabila yg terpotong itu kurang dari separuh, maka boleh”. [37]

[8]. HEWAN KURBAN TIDAK BUTA SEBELAH, SAKIT, PINCANG DAN KURUS, HILANG SETENGAH TANDUK ATAU TELINGANYA.

Berdasarkan hadits Al-Barra [38] dlm riwayat Ahmad & Ahlu Sunan serta dishahihkan oleh At-Tirmidzi, Ibnu Hibban & Al-Hakim, berkata : Bersabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Empat yg tdk diperbolehkan dlm berqurban. (hewan qurban) buta sebelah yg jelas butanya, sakit yg jelas sakitnya, pincang yg jelas bengkoknya & tdk sanggup berjalan, & yg tdk mempunyai lemak (kurus)”. [Dalam riwayat lain dg lafazh2 Al-Ajfaa’/kurus pengganti Al-Kasiirah].

Dan dikeluarkan oleh Ahmad, Ahlu Sunan & dishahihkan At-Tirmidzi dari hadist Ali, berkata :

“Artinya : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang, seseorang berkurban dg hewan yg terpotong setengah dari telinganya”. [39]

Qatadah berkata :”Al-‘Adhab, adalah (yg terpotong) setengah & lebih dari itu”. Dan di keluarkan oleh Ahmad, Abu Dawud, Al-Hakim & Bukhari dlm tarikhnya, berkata.

“Artinya : Hanyasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari Mushfarah, Al-Musta’shalah, Al-Bakhqaa’, Al-Musyaya’ah & Al-Kasiirah. Al-Mushafarah adalah yg dihilangkan telinganya dari pangkalnya. Al-Musta’shalah adalah yg hilang tanduknya dari pangkalnya, Al-Bukhqa’ adalah yg hilang penglihatannya & Al-Musyaya’ah adalah yg tdk dapat mengikuti kelompok kambing karena kurus & lemahnya, & Al-Kasiirah adalah yg tdk berlemak”. [40]

Penafsiran ini adalah asal riwayat, & dlm bab ini trdp beberapa hadits. Adapun hewan kurban yg kehilangan pantat, sebagaimana hadits yg dikeluarkan oleh Ahmad, Ibnu Majah & Al-Baihaqi dari hadits Abu Sa’id, berkata :

“Artinya : Saya membeli seekor domba u/ berkurban, lalu srigala menganiyayanya & mengambil pantatnya. Lalu aku tanyakan kpd Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka beliau bersabda : Berkurbanlah dengannya.” [41] [Di dlm sanadnya trdp Jabir Al-Ju’fy & dia sangat lemah]. [42]

[9]. BERSEDEKAH DARI UDHIYAH, MEMAKAN DAN MENYIMPAN DAGINGNYA.

Berdasarkan hadits Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

“Artinya : Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Makanlah, simpanlah & bersedekahlah”. [Diriwayatkan dlm shahihain [43] & dlm bab ini trdp beberapa hadits].

[10]. MENYEMBELIH DI MUSHALLA [TANAH LAPANG YANG DIGUNAKAN UNTUK SHALAT IED] LEBIH UTAMA

Untuk menampakkan syi’ar agama, berdasarkan hadist Ibnu Umar dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Bahwa beliau menyembelih & berkurban di Mushala”. [44] [Diriwayatkan oleh Bukhari]

[11]. BAGI YANG MEMILIKI KURBAN, JANGAN MEMOTONG RAMBUT DAN KUKUNYA SETELAH MASUKNYA 10 DZULHIJJAH HINGGA DIA BERKURBAN

Berdasarkan hadits Ummu Salamah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

“Artinya : Apabila engkau melihat bulan Dzul Hijjah & salah seorang kalian hendak berkurban, maka hendaklah dia menahan diri dari rambut & kukunya”.

Dan didalam lafazh Muslim & lainnya.

“Artinya : Barangsiapa yg punya sembelihan u/ disembelih, maka apabila memasuki bulan Dzul Hijjah, jangan sekali2 mengambil (memotong) dari rambut & kukunya hingga dia berkurban”. [46]

Dan para ulama berbeda pendapat dlm permasalahan ini. Sa’id bin Al-Musayyib, Rabi’ah, Ahmad, Ishaq, Dawud & sebagian pendukung Syafi’i berpendapat, bahwa diharamkan mengambil (memangkas/memotong) rambut & kukunya sampai dia (menyembelih) berkurban pd waktu udhiyah. Imam Syafi’i & murid2nya berkata : “Makruh tanzih”. Al-Mahdi menukil dlm kitab Al-Bahr dari Syafi’i & selainnya, bahwa meninggalkan mencukur & memendekkan rambut bagi org yg hendak berkurban adalah disukai. Berkata Abu Hanifah : Tidak Makruh. [47]

Wallahu a’lam

[Disalin dari Kitab Ar-Raudhatun Nadhiyyah Syarh Ad-Durar Al-Bahiyyah, karangan Abu-At-Thayyib Shidiq Hasan bin Ali Al-Hushaini Al-Qanuji Al-Bukhari oleh Abu Abdirrahman Asykari bin Jamaluddin Al-Bugisy, & dimuat di Majalah As-Sunnah edisi 22/II/1417H-1997M]
_________
Foote Note
[34]. Diriwayatkan oleh Bukhari X/8/No. 5556, Muslim XIII/35/1961, Syarh Nawawi
[35]. Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dlm As-Sunnan Al-Kubra IX/270 No. 19062 & sanadnya shahih. Atud adalah anak dari ma’z. Berkata Ibnu Baththa: Al-‘Atul adalah Al-Jadz’u dari ma’z berumur lima bulan (Fath al-Bari X/14)
[36]. Lihat Syarh Muslim An-Nawawi, juz XIII hal. 99
[37]. Lihat Al-Ifsah ‘an ma’anish shihah, oleh Abul Mudzhfir, I/308 cet. Muassasah As-Sa’idiyan di Riyadh
[38]. Diriwayatkan oleh seluruh kitab sunan & lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani dlm Irwa’ul Ghalil IV/1149
[39]. Sayikh Al-Alabni mengatakan bahwa hadits ini mungkar, lihat Irwa’ul Ghalil IV/1149
[40]. Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bab;maa yukrahi min adh-dhahaya V/No. 2800 & ini lafazhnya, & riwayat ini didhaifkan oleh Al-Albani dlm dha’if Abu Dawud No. 599 hal. 274
[41]. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, bab manisy syifaraa udhiyah shahihah faashabaha ‘indahu syaiun, No. 3146 hadits ini di dhaifkan oleh Al-Albani No. 679 dlm dhaif Ibnu Majah
[42]. Namanya Jabir bin Yazid bin Al-Harits Al-Ju’fy, Abu Abdillah Al-Kuufi, dha’if rafidhi (Taqrib At-Tahdzib, No. 886)
[43]. Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bab : An-Nahyu ‘an luhum al-adhahy ba’da tsalats , juz XII No. 197 dari ‘Aisyah sedangkan dlm riwayat Bukhari, saya tdk menemukan hadits dari ‘Aisyah, yg ada adalah dari Salamah bin Al-Akwa X/No. 5569, dg yg bebeda, wallahu ‘alam.
[44]. Bukhari, bab : Al-Adhaa wan nahr bil mushala . X/No. 5552. Al-Fath
[45]. HR Muslim, bab . Nahyu Murid At-Tadhiyah an ya’khudza min sya’rihi wa adzfaarihi stai’an XIII/No. 1977 dari Ummu Salamah.
[46]. Riwayat Muslim, hadits berikutnya setelah hadits No. catatan kaki No. 45 pd shahih muslim
[47]. Nailul Authar, Al-Imam ASy-Syaukani, jilid V. hal. 128 cet. Syarikah maktabah wa matba’ah, Mustafa Al-Baby Al-Halaby, tanpa tahun.

by Abu Hamzah Suparwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s