Hukum Kurban

##Hukum Qurban##.
Ust. Kholid syamhudi LC

Qurban merupakan salah satu sembelihan yang disyariatkan sebagai ibadah dan amalan mendekatkan diri kepada Allah.

Hal inilah yang dinyatakan Ibnul Qayyim dalam pernyataan beliau: “Sembelihan-sembelihan yang menjadi amalan mendekatkan diri kepada Allah dan ibadah adalah Al Hadyu, Al Adhhiyah (Qurban) dan Al Aqiqah”.

Demikianlah pensyariatannya sudah merupakan ijma’ (consensus) yang disepakati kaum muslimin.

Namun tentang hukumnya masih diperselisihkan para ulama dalam beberapa pendapat.

1. Wajib bagi yang mampu, inilah pendapat Abu Hanifah dan Maalik. Madzhab inipun dinukil dari Rabi’ah Al Ra’yi, Al Auzaa’ie, Al Laits bin Sa’ad dan salah satu riwayat dari Ahmad. Bin Hambal.

Pendapat ini dirojihkan oleh Ibnu Taimiyah dan Syeikh Ibnu Utsaimin berkata: “Pendapat yang mewajibkan bagi orang yang mampu adalah kuat, karena banyaknya dalil yang menunjukkan perhatian dan kepedulian Allah padanya”

(bersambung).

(Lanjutan Hukum Qurban 1_)
##Hukum Qurban##.
Ust. Kholid syamhudi LC

1. Sunnah atau sunnah muakkad bagi yang mampu, inilah pendapat Jumhur Ulama dan Al Hafidz ibnu Hajar menukil pernyataan Ibnu Hazm yang menyatakan:

“Tidak shohih dari seorangpun dari para sahabat yang menyatakan kewajibannya. Yang benar Qurban tidak wajib menurut Jumhur dan tidak ada perselisihan bahwa ia merupakan salah satu syiar agama”.

3. Fardhu Kifayah, ini merupakan satu pendapat dalam madzhab Syafi’i
Dalil pendapat pertama adalah:
Hadits Al Bara’ bin ‘Aazib, beliau berkata:
ذَبَحَ أَبُو بُرْدَةَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْدِلْهَا قَالَ لَيْسَ عِنْدِي إِلَّا جَذَعَةٌ قَالَ اجْعَلْهَا مَكَانَهَا وَلَنْ تَجْزِيَ عَنْ أَحَدٍ بَعْدَكَ

Abu Burah telah menyembelih Qurban sebelum sholat (Ied) lalu Nabi n berkata kepadanya: Gantilah, beliau menjawab: saya tidak punya kecuali Jaz’ah. Maka beliau berkata: Jadikanlah ia sebagai penggantinya dan hal itu tidak berlaku pada seorangpun setelahmu. (Muttafaqun ‘Alaihi)

(sambung!)

#hukum Qorban 2 lanjutan#

orang yang mewajibkan berhujjah dengan hadits ini dengan menyatakan bahwa Rasululloh memerintahkan Abu Burdah untuk mengulangi penyembelihannya jika telah melakukannya sebelum sholat. Hal seperti ini tidak dikatakan kecuali dalam perkara wajib saja.

Hadits Jundab bin Abdillah bin Sufyaan Al Bajalie, beliau berkata:
قَالَ صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ ذَبَحَ فَقَالَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَلْيَذْبَحْ أُخْرَى مَكَانَهَا وَمَنْ لَمْ يَذْبَحْ فَلْيَذْبَحْ بِاسْمِ اللَّهِ
Nabi n berkata pada hari Nahr (ied Al Adhha) kemudian berkhutbah: Siapa yang menyembelih sebelum sholat maka sembelihlah yang lain sebagai penggantinya dan siapa yang belum menyembelih maka sembelihlah dengan nama Allah. (Muttafaqun ‘Alaihi)

Hadits Anas bin Malik, beliau berkata:
قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ ذَبَحَ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَلْيُعِدْ
Nabi n berkata: Siapa yang telah menyembelih sebelum sholat maka ulangi lagi. (Muttafqun ‘Alaihi)

Hadits Jaabir bin Abdillah, beliau berkata:
صَلَّى بِنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ النَّحْرِ بِالْمَدِينَةِ فَتَقَدَّمَ رِجَالٌ فَنَحَرُوا وَظَنُّوا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ نَحَرَ فَأَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ نَحَرَ قَبْلَهُ أَنْ يُعِيدَ بِنَحْرٍ آخَرَ وَلَا يَنْحَرُوا حَتَّى يَنْحَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Nabi mengimami kami shholat di hari nahr (iedul Adha) di Madinah, lalu beberapa orang maju dan menyembelih (sembelihannya) dalam keadan menyangka Nabi telah menyembelih. Lalu Nabi memerintahkan orang yang menyembelih sebelul beliau untuk mengulangi sembelihan yang lainnya dan jangan menyembelih sampai nabi menyembelih.

(Sambung lagi)

#hkm qurban 3#

Hadits-hadits ini jelas menunjukkan kewajiban Qurban, sebab ada padanya dua penunjukkan wajib, pertama bentuk perintah dan kedua perintah mengulangi.

Tentunya sesuatu yang tidak wajib tidak diperintahkan untuk mengulanginya.

Ketiga hadits diatas dikomentari Ibnu Hajar dalam pernyataan beliau: “Orang yang mewajibkan kurban berdalil dengan adanya perintah mengulangi penyembelihan.

Mak hal ini dibantah dengan menyatakan bahwa yang dimaksud adalah penjelasan syarat penyembelihan kurban yang disyariatkan. Ini seperti pernyataan orang yang sholat sunnah dhuha sebelum matahari terbit: ‘Jika matahari sudah terbit maka ulangi sholat kamu’.”.

Hadits Abu Hurairoh, beliau berkata:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا
Rasululloh bersabda: Siapa yang memiliki kemampuan (keluasan rizki) dan tidak menyembelih maka jangan dekati tempat sholat kami.

Hadits ini jelas menunjukkan ancaman kepada orang yang memiliki kemampuan dan enggan menyembelih kurban. Tentunya Rasululloh tidaklah berbuat demikian kecuali menunjukkan kewajibannya.

Pendapat yang tidak mewajibkan menyatakan bahwa hadits ini hadit yang mauquf saja sehingga tidak dapat dijadikan hujjah dalam perkara ini.

Hal ini dijawab oelh Syeikh Al Albanie dalam pernyataan beliau: “Hadits ini diriwayatkan secara mauquf oleh Ibnu Wahab, namun ziyadah Tsiqah ini diterima. Abu Abdurrahman AL Muqri’ diatas tsiqah (sangat tsiqah (kredibel))”

Kemudian pendapat yang tidak mewajibkan menjawab: oke, anggap saja haditsnya hasan, namun juga tidak tegas dalam menunjukkan kewajibannya, sebagaimana dikatakan Ibnu Hajar: “Yang menjadi dasar kuat yang dipegangi pendapat yang mewajibkan adalah hadits Abu Hurairoh ini.

Namun diperselsihkan apakah marfu’ atau mauquf?. Mauquf lebih dekat kepada kebenaran, sebagaiaman pendpat Al Thohawie dan selainnya. Walaupun marfu’ hadits ini juga tidak tegas dalam menunjukkan kewajibannya”.

(Lanjut…)

2. Hadits Jaabir, beliau berkata:
شَهِدْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْأَضْحَى بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا قَضَى خُطْبَتَهُ نَزَلَ عَنْ مِنْبَرِهِ فَأُتِيَ بِكَبْشٍ فَذَبَحَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ وَقَالَ بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
Aku menyaksikan bersama nabi صلى الله عليه وسلم sholat ied al Adha di Mushalla (tanah lapang), ketika selesai khuthbahnya, beliau turun dari mimbarnya lalu dibawakan seekor kambing dan Rasululloh menyembelihnya dengan tangannya langsung dan berkata: Bismilah wa Allahu Akbar hadza ‘Anni wa ‘Amman Lam Yudhahi Min Ummati (Bismillah Allahu Akbar, Ini dariku dan dari umatku yang belum menyembelih).

Mereka menyatakan: “ Seandainya qurban diwajibkan, tentunya orang yang meninggalkannya berhak dihukum dan tidak bisa dianggap cukup, lalu bagaimana dengan sembelihan Rasululloh tersebut? sehingga sabda beliau :
هَذَا عَنِّي وَعَمَّنْ لَمْ يُضَحِّ مِنْ أُمَّتِي
Yang disampaikan secara mutlak tanpa perincian merupakan dalil tidak wajibnya Qurban.

Al Syaukanie berkata: “ Sisi Pendalilan hadits ini dan yang semakna dengannya atas ketidak wajiban kurban adalah dzahir \nya menunjukan bahwa kurban Nabi bagi umatnya dan keluarganya mencukupkan orang yang tidak menyembelih kurban, baik mampu atau tidak mampu.

Hal ini mungkin dijawab, bahwa hadits إِنَّ عَلَى كُلِّ أَهْلِ بَيْتٍ فِي كُلِّ عَامٍ أَضْحِيَةً – yang menunjukkan kewajiban menyembelih kurban bagi ahli bait yang mampu – menjadi indicator bahwa kurban nabi tersebut untuk orang yang tdiak mampu saja.

Seandainya benar yang disampaikan pendapat yang tidak mewajibkan, maka tidalah dapat menjadi dalil tidak wajibnya kurban, karena titik perselisihannya adalah pada orang yang menyembelih untuk dirinya sendiri dan bukan orang yang disembelihkan orang lain. Sehingga ketidak wajibannya pada orang yang ada dizaman beliau dari umat ini mengharuskan tidak wajibnya pada orang yang ada diluar zaman beliau”.

Lanjut

##Lanjutan dalil pendapat yg tdk mewajibkan##

3. Atsar Abu Bakr dan Umar, sebagaiman diriwayatkan oleh Abu Sariehah Al Ghifarie, beliau berkata: Aku mendapati Abu Bakar atau melihat Abu Bakar dan Umar tidak menyembelih kurban- dalam sebagian hadits mereka- khawatir dijadikan panutan. Seandainya Qurban diwajibkan, tentulah keduanya orang yang lebih pantas mengamalkan nya, akan tetapi keduanya memahami hukum Qurban tersebut tidak wajib.

Lalu mana yg Rojih. (Paling kuat). ?

..ikutiterus.com..

#hukum qurban-habis-i#

Pendapat yang Rajih

Syeikh Muhammad Al Amien Al Syingkitie berkata: “Saya telah menerliti dalil-dalil sunnah pendapat yang mewajibkan dan yang tidak mewajibkan dan realitanya dalam pandangan kami, bahwa tidak ada satupun dalil kedua pendapat tersebut yang tegas pasti dan selamat dari bantahan baik yang menunjukkan wajib atau tidak wajib”.

Kemudian berkata : “yang rojih bagi saya dalam perkara seperti ini yang tidak jelas penunjukan nash-nash kepasa satu hal tertentu dengan tegas dan jelas adalah berusaha sekuat mungkin keluar dari khilaf. Sehingga berkurban bila mampu, karena Nabi bersabda:

”Tinggalkanlah yang ragu kepada yang tidak ragu. ”

Sepatutnya seorang tidak meningalkannya bila mampu, karena menunaikannya itu yang sudah pasti menghilangkan tanggung jawabnya. Wallahu A’lam”.

Yang rojih –Wallahu A’lam – dalam permasalahan ini adalah pendapat Jumhur ulama. Karena seandainya tidak ada satu dalil hadits nabi pun yang secara pasti menunjukkan kerojihan salah satu pendapat tersebut, namun amalan Abu Bakar dan Umar dapat dijadikan factor merojihkan pendapat jumhur.

Sebab hal ini merupakan pengamalan perintah Rasululloh dalam hadits Irbadh bin Saariyah yang berbunyi:
فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسَنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ

Sungguh siapa diantara kalian yang hidup setelahku maka akan mendapati perselisihan yang banyak maka wajib baginya untuk memegangi sunnahku dan sunnah khulafa’ Al Rosyidin.

Keduanya termasuk dari Khulafa Rasyidin menurut kesepakatan kaum muslimin.

Kemudian hal ini juga dikuatkan dengan hadits lainnya yang diriwayatkan imam Muslim dengan lafadz:
فَإِنْ يُطِيعُوا أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ يَرْشُدُوا
Karena jika mereka mengikuti Abu Bakar dan Umar niscaya mendapati petunjuk.

Ditambah lagi dengan adanya riwayat atsa r dari Ibnu Umar, Abu Mas’ud Al Anshori dan Ibnu Abas yang menunjukan ketidak wajibannya.

Mudah-mudahan bermanfa’at.
**********

by Abu Hamzah Suparwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s