Syarah ashlussunnah wa’tiqadud diin # pokok-pokok

#Syarah ashlussunnah wa’tiqadud diin#.
Ust. Badrusalam LC
(1/

Berkata imam Abu Muhamad Abdurrahman bin Abi Hatim: “Aku bertanya kepada ayahku (Abu Hatim) dan Abu Zur’ah tentang keyakinan ahlussunnah dalam pokok-pokok agama dan keyakinan para ulama yang mereka temui di seluruh negeri?

Keduanya menjawab: “Kami mendapati para ulama di seluruh negeri baik di Hijaz, Iraq, Mesir, Syam, dan Yaman, diantara keyakinan mereka adalah:

1. Iman adalah perkataan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.

2. Al Qur’an adalah firman Allah dan bukan makhluk dari seluruh sisinya.

3. Taqdir yang baik maupun yang buruk dari Allah.

4. Sebaik-baik umat ini setelah Nabi adalah Abu Bakar kemudian Umar bin Al Khathab kemudian Utsman bin Affan kemudian Ali bin Abi Thalib, dan mereka adalah Al Khulafa Ar Rasyidin yang tertunjukki.

5. Bahwa sepuluh orang yang disebut namanya oleh Rasulullah dan dinyatakan masuk surga adalah haq.

6. Mendo’akan rahmat bagi seluruh shahabat Nabi, dan tidak mencaci mereka dalam pertikaian mereka.

7. Sesungguhnya Allah bersemayam di atas ‘Arasy-Nya berpisah dengan makhluk-Nya sebagaimana Allah mensifati diriNya dengannya dalam kitabNya dan melalui lisan Rasul-Nya dengan tanpa mempertanyakan tata caranya.

8. Ilmu Allah meliputi segala sesuatu.

9. Allah tidak serupa dengan apapun, dan Dia Maha mendengar lagi Maha Melihat.

10. Bahwa Allah terlihat di akhirat, dan penduduk surga melihat Allah dengan mata kepala mereka.

11. Mereka mendengar firman Allah dengan cara yang Dia kehendaki.

12. Surga dan Neraka adalah haq, keduanya adalah makhluq yang tak akan hancur selamanya, surga adalah pahala untuk para walinya dan Neraka adalah siksa bagi pelaku maksiat kecuali orang yang Dia rahmati.

13. Shirat adalah haq.

14. Beriman kepada mizan (timbangan) yang mempunyai dua neraca, yang akan menimbang amal para hamba yang baik maupun yang buruk.

15. Telaga haudl nabi kita dan beliau dimuliakan dengannya adalah haq.

(2/
16. Syafa’at adalah haq, dan bahwa orang yang mentauhidkan Allah akan keluar dari Neraka dengan melalui syafaat adalah haq.

17. Adzab qubur adalah haq.

18. Munkar dan Nakir adalah haq.

19. Malaikat yang mulia yang mencatat (amalan hamba) adalah haq.

20. Beriman kepada kebangkitan setelah mati.

21. Pelaku dosa besar berada dalam kehendak Allah, dan ahli qiblat tidak dikafirkan karena dosa-dosa mereka, dan kita serahkan sarirah mereka kepada Allah.

22. Menegakkan kewajiban jihad dan haji bersama pemimpin kaum muslimin di setiap waktu dan zaman.

23. Tidak boleh memberontak kepada pemimpin dan tidak boleh berperang di dalam fitnah, kita tetap mendengar dan taat kepada orang yang Allah jadikan penguasa, dan tidak. mencabut ketaatan darinya.

24. Kita mengikuti sunnah dan al jama’ah, dan menjauhi pendapat yang syadz (nyeleneh), perselisihan dan perpecahan.

25. Sesungguhnya jihad akan terus ada semenjak Allah mengutus NabiNya sampai hari kiamat bersama ulil amri kaum muslimin, tidak dibatalkan oleh apapun, demikian pula berhaji bersama mereka.

26. Membayar zakat dari binatang ternak kepada pemimpin kaum muslimin.

27. Manusia dihukumi mukmin secara lahiriyah dalam hukum dan warisan, namun tidak diketahui bagaimana mereka di sisi Allah, siapa yang berkata bahwa ia beriman secara pasti maka ia mubtadi’ dan siapa yang mengatakan bahwa ia mukmin di sisi Allah maka ia berdusta, dan siapa yang berkata: dia beriman kepada Allah, maka itulah yang benar.

28. Murji’ah adalah ahlul bid’ah yang sesat.

29. Qadariyah adalah ahlul bid’ah yang sesat, dan siapa diantara mereka yang mengingkari bahwa Allah mengetahui sesuatu sebelum terjadi maka dia kafir.

30. Bahwa jahmiyah adalah kafir.

31. Rafidlah (syi’ah) telah menolak islam.

32. Khawarij adalah pembangkang.

33. Siapa yang mengklaim bahwa alqur’an adalah makhluk maka dia kafir yang mengeluarkan pelakunya dari millah islam, dan siapa yang meragukan kekafiran mereka dari orang yang faham maka ia pun kafir.

(3/
34. Siapa yang ragu terhadap kalamullah dan berkata: saya tidak tahu apakah al qur’an itu makhluk atau bukan makhluk maka ia jahmiy, dan siapa yang ragu karena jahil maka harus diberitahu (jika tidak mau) maka ia dianggap ahlul bid’ah dan tidak dikafirkan.

35. Siapa yang mengatakan: pelafadzan saya dengan alqur’an adalah makhluq maka ia jahmiy.

by Abu Hamzah Suparwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s