KAIDAH-KAIDAH METODE BERAGAMA AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH

#KAIDAH2 METODE BERAGAMA ASWAJA#
Ust. Nuzul LC
(1/8)

Kita akan mempelajari scr berkala kaidah2 yg berkaitan dg metode beragama ahlussunnah waljama’ah yg disarikn dr kitab Al Ishbah fi Bayan Manhajis Salaf fitTarbiyati wal Ishlah yg ditulis oleh Syeikh Abdullah binSholih Al Ubailan & dikoreksi serta diberikan kta pengantar oleh Syeikh SholihFauzan.

Kaidah I :
“Agama islam dibangun diatas 2 pondasi, yaitu ikhlas & mutaba’atur rasul.”

Pondasi pertama:

Mengikhlaskan niat kita hanya u/ Allah dlm setiap amal ibadah, brdsrkn firman Allah dlm AlBayyinah- 5:

‫‫وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ‬‬

“Padahal merka tdk disuruh kec. spy menyembah Allah dg mengikhlaskn/ memurnikn ketaatan kpd-Nya dlm (menjlnkan) agama dg lurus, & spy mreka mendirikan salat & menunaikan zakat; & yg demikian itulah agama yg lurus.”

Pondasi ke-2:

Mutaba’ah, yaitu akidah serta amal ibadah kita sesuai dg apa yg disyari’atkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم . Hal ini bdsrkn ayat dlm Ali Imran-31:

‫‫قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ‬‬

Katakanlh: “Jika kamu (benar2) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi & mengampuni dosa2mu”, & Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Dan dua pondasi ini dihimpun Allah t a’ala dlm Al Mulk-2:

‫‫الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ‬‬

“yg menjadikan mati & hidup, spy Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yg paling baik amalnya. & Dia Maha Perkasa lgi Maha Pengampun.”
 
Fudhail bin ‘Iyadh berkta: “Makna ahsanu ‘amala adlh yg paling ikhlas & yg paling benar.” Lalu beliau ditanya: “Apa yg paling ikhlas & yg paling benar?” Beliau mnjwb: “Ikhlas: apa2 yg dikerjakn u/ Allah, & hal yg benar adlh apa yg sesuai dg assunnah

(Ibnu Abi Dunya dlm kitabnya Al Ikhlas wanNiyyah)

#KAIDAH2 METODE BERAGAMA ASWAJA#
Ust. Nuzul LC

Kaidah ke-2:
“Sumber syari’at, dakwah & ibadah adlh AlQur’an & AsSunnah”

Allah taala brfrman:

‫‫وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ‬‬

“& taatilah Allah & Rasul, spy kmu diberi rahmat.” (QS. Ali Imran: 132)‫‫يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ‬‬

“Hai org2 yg beriman, jngnlh kamu mendahului Allah & Rasul-Nya & bertakwalah kpd Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lgi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

‫‫تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْن لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابُ الله وَ سُنَّتِي‬‬

“Aku tingglkan u/ kalian 2 hal yg kalian tdk akan tersesat setelahnya, Kitabullah & Sunnahku.” (HR. Hakim)

Ini adlh penyempurnaan dr kaidah seblmx bhw ssngghnya sebuah amal tdk akan diterima di sisi Allah kecuali dg 2 syarat:

a.  dikerjakan dg penuh keikhlasan
b.  & mengikuti syari’at atau tuntunan Rasulullah.
Dan u/ mengtahui syariat Rasulullah kita hrs kembali ke sumberx yg otentik yaitu AlQur’an & AsSunnah (hadits2 Nabi yg shahih/valid).

Berangkat dari hal ini, kita memetik sebuah pelajaran berharga bhw keta’atan mutlak hanyalah u/ Allah & u/ Rasul-Nya krn beliau tdk mensyariatkan kecuali dg apa2 yg Allah perintahkan, sebgmn firmanNya:

‫‫وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى‬‬

“& tiadlh yg diucapkannya (Rasulullah) itu menurut kemauan hawa nafsunya (3) Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yg diwahyukan (kpdnya).” (AnNajm;3-4) 

Sedangkan selain Rasulullah, jika kita ta’at kpd mereka mk ketaatan kita kpd mrka jk mrka mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم, bukan ketaatan scr mutlak.

Adapun jk mrka salah & menyelisihi Al Qur’an & As Sunnah mk mrka tdk dita’ati, hal ini berdsrkn sabda Nabi صلى الله عليه وسلم :

‫‫لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخالِق‬‬

“tdk ada ketaatan kpd makhluk dlm kemaksiatan kpd Allah.”(HR. Ahmad)

#KAIDAH2 METODE BERAGAMA ASWAJA#
Ust. Nuzul LC

Kaidah ke-3:
“Memahami & mentafsirkan AlQuranul karim dg Assunnah”

Ini merupakan pnjlsan bhw AsSunnah itu hujjah (dalil) yg hrs diambil, sbgmn kita mengambil AlQur’an sbg hujjah. Oleh krn itu, ALLAH menunjuk Rasulullah u/ mnjlskn Al Qur’an. Firman-Nya:

“& Kami turunkan kpdmu Al Qur’an agar kamu menerangkan kpd umat manusia apa yg telah diturunkan kpd mereka & spy mrka. memikirkan.” (QS.AnNahl: 44) 

Sebgmn kita mengenal kaidah: mentafsirkan ayat AlQuran dg ayat Al Quran yg lain, AsSunnah pun demikian, ia berfungsi u/ mnjlskan apa yg ada dlm AlQur’an & mentafsirkannya. Oleh krn itu AsSunnah sangat dibutuhkan u/ mendampingi AlQur’an.

Contoh:
ALLAH ta’ala dlm AlQuran memerintahkan kita u/ mendirikan shalat, menjagax & istiqamah dlm menjlnkanx, & memberikan ancaman bg org yg meninggalkanx. Akan tetapi pernahkah kita membaca sebuah ayat dlm AlQur’an yg berisi tata cara mengerjakan shalat? tanpa perlu berpikir panjang kita menjwb: tdk, Al Quran tdk menjlskan tata cara shalat, jumlah raka’atnya, apa yg diucapkan ketika berdiri, ruku’, sujud, & lain sbgainya.

Hal itu semua dijelaskan scr lengkap dlm AsSunnah, Nabi bersabda:

‫‫صَلُّوْا كَمَا رَأَيْتُمُوْنِيْ أُصَلِّيْ‬‬

“Shalatlah kalian sebgmn aku shalat.” (HR. Bukhari) 

Begitu juga dg zakat, dlm Al Quran ALLAH memerintahkan kita u/ mengeluarkan zakat dg perintah yg global, tanpa mnjlskn brp kadarnya, & macam2 harta yg wajib dikeluarkan zakatnya scr terperinci, Allah berfirman:

“& dirikanlah salat, tunaikanlah zakat & rukuklah beserta org2 yg ruku’.”(QS.Al Baqarah:43)

Yg mnjlskn hal2 yg brhubngan dg zakat adlh Rasulullah dlm sunnah beliau, beliau mnjlskn kpan ssorg wajib zakat, & harta apa saja yg wajib u/ dizakati, brp kadar yg hrs dikeluarkan u/ zakat.

Begitu juga dg shaum, haji & ibadah2 yg lain yg global, dijlaskan scr terperinci oleh Rasulullah

Mk benarlah apa yg digariskan oleh para ulama bhw salah satu fungsi Assunnah adlh mentafsirkan AlQrn karim.

#KAIDAH2 METODE BERAGAMA ASWAJA#
Ust. Nuzul LC

KAIDAH K-4:

#Memahami & Mentafsirkan Al Qur’an & As Sunnah Menurut Pemahaman Salafus Sholih (generasi terbaik islam)#

Ini adlh kaidah yg sangat penting yaitu perintah u/ mengikuti jalan & metode para shahabat Nabi dlm memahami & mengikuti Al Qur’an & As Sunnah. Mari. kita renungkan firman ALLAH ta’ala di bawah ini:  ‫
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا. عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ‬‬

“org2 yg terdahulu lagi yg pertama-tama (masuk Islam) di antara org2 muhajirin danAnsar & org2 yg mengikuti mereka dg baik, Allah ridha kpd mereka & mereka pun ridha kpd Allah & Allah menyediakan bagi mereka surga2 yg mengalir sungai2 di dlmnya; mereka kekal di dlmnya. selama-lamanya.  Itulah kemenangan yg besar.” (QS. At Taubah: 100) 

Ayat ini memberikan pelajaran berharga kpd kita bhw u/ meraih ridha Ilahi & kenikmatan surgawi kita hrs mengikuti kaum muhajirin & anshar (baca: sahabat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-).

Setelah kita memahami ayat diatas, marilah kita simak apa yg dituturkan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

“Umatku akan berpecah menjadi 73. golongan seluruhnya diancam masuk ke dlm api neraka kecuali satu golongan. Para sahabat bertanya: “Siapakah mereka (golongan yg selamat) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “org yg berada di atas. jalanku & para sahabatku.” (HR.Tirmidzi)

Ini adlh prinsip yg dipegang teguh oleh para ulama kita, salah satu buktinya adlh apa yg dikemukakan oleh Abdullah bin Mas’ud: “Dan berpegang teguhlah dg petunjuk mereka (para sahabat) krn mereka berada di atas jalan yg benar.” (Dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Bar).

Mengapa para sahabat?

Muslim yg baik tentu saja akan menjawab dg sederhana: “krn hal ini diperintahkan oleh ALLAH & Rasul-Nya.”

Namun jika kita ingin menelusuri hikmah & alasan yg ada di balik perintah ini maka hal ini dikrnkan para sahabat adlh umat Nabi yg paling bersih hatinya, yg paling dlm ilmunya, org2 yg dipilih oleh ALLAH ta’ala u/ mendampingi Nabi-Nya, generasi yg merupakan saksi mata saat ALLAH menurunkan wahyu-Nya kpd Rasulillah, generasi yg langsung dididik & dibina oleh tangan dingin guru terbaik yg pernah ada yaitu Rasulullah & cara beragama mereka di kontrol scr langsung oleh ALLAH & Rasul-Nya.

Maka marilah kita berpegang teguh dg cara beragama & pemahaman para sahabat.

#KAIDAH2 METODE BERAGAMA ASWAJA#
Ust. Nuzul LC

Kaidah ke-5:

Hal yang pertama kali di dakwahkan para Nabi dan Rasul adlh tauhid (meng-esakan ALLAH dlm seluruh amal ibadah), dakwah tidak akan berhasil dan sebuah ibadah tidak sah kecuali dengan tauhid yang benar.

ALLAH ta’ala berfirman:
‫‫وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ‬‬

Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya “bhwsanya tidak ada Tuhan yang berhak disembah/diibadahi melainkan Aku, maka sembahlah Aku”. (QS. Al Anbiya: 25) 

Tauhid adlh pondasi dari agama islam ini. Oleh krn itu, hal yang pertama kali di dakwahkan para Nabi dan Rasul adlh tauhid, krn ibadah seseorang tidak akan sah apabila tauhidnya bermasalah/disertai dengan kesyirikan.

ALLAH ta’ala berfirman:
‫‫وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ‬‬

Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (u/ menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”. (QS. An Nahl: 36)

Dan jika kita membuka lembaran perjalanan dakwah Rasulullah, kita akan melihat betapa nyatanya ayat diatas mendampingi kehidupan dakwah beliau, selama 13 tahun l amanya beliau dengan gigih tanpa kenal lelah berdakwah, menyeru manusia agar mentauhidkan ALLAH.

Hal ini juga yang Beliau wasiatkan ketika mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman: “Sesungguhnya engkau akan menemui suatu kaum ahli kitab maka yang pertama kali hrs engkau dakwahkan kepada mereka adlh tauhid, persaksian bhw tidak ada ILAAH yang berhak disembah kecuali ALLAH.” (HR. Bukhari dan Muslim)

..bersambung

Ini adlh kaidah yang hrs dipegang teguh oleh seseorang yang berdakwah kepada jalan ALLAH, dia hrs. memprioritaskan hal yang paling penting dari hal yang penting. ia hrs memulai dakwah ini dengan tauhid krn ini adlh asas yang menentukan sah/tidaknya amalan seorang hamba. Shalat, zakat, puasa dan ibadah-ibadah lainnya tidak akan sah kecuali dibangun diatas tauhid yang benar.

ALLAH ta’ala berfirman:
‫‫وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ. أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ‬‬

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (ALLAH), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Az Zumar: 65)

Marilah kita bertauhid dan mendakwahkan tauhid krn inilah jalan dakwah Rasulullah dan sebagai bentuk kasih sayang kita kepada saudara-saudara kita, krn kita tidak menginginkan pahala ibadah saudara- saudara kita lenyap dan berakhir di neraka krn mereka mencoreng tauhid mereka dengan kesyirikan.

Dan barangsiapa yang memandang sebelah mata dan tidak mengusung dakwah tauhid, maka ia telah memilih jalan yang berbeda dengan jalan yang dititi Rasulullah dan sebuah sikap lepas tangan saat ia melihat saudaranya jatuh ke dalam dosa yang paling besar tanpa ia berusaha u/ menolongnya.

Ust. Nuzul LC
(1/2)

Kaidah keenam:

“Memulai dakwah sesuai dengan apa yang ALLAH dan Rasul-Nya dakwahkan pertama kali, mendahulukan hal-hal yang ALLAH dan Rasul-Nya dahulukan untuk didakwahkan dan mengakhirkan apa yang diakhirkan ALLAH dan Rasul-Nya, dan dengan inilah kemashlahatan dapat tercapai dan kemudharatan dapat dicegah dan dihilangkan”

Ini adalah lanjutan dari kaidah yang sebelumnya bahwa dakwah dilakukan secara bertahap, maka dari itu dakwah dimulai dari hal yang terpenting baru kemudian hal yang penting, seperti pada kaidah sebelumnya bahwa masalah akidah/tauhid adalah hal yang harus diprioritaskan dalam berdakwah.

Hal inilah yang dilakukan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dalam dakwah beliau, selama 13 tahun di Mekkah beliau mengajak manusia kepada tauhid yang benar, setelah itu baru kemudian beliau mengajarkan syari’at-syari’at islam yang lainnya.

Dan sebuah fakta yang menarik adalah ayat-ayat Makkiyah (yang turun sebelum hijrah) menitik beratkan permasalahan tauhid dan aqidah, sedangkan ayat-ayat Madaniyah (yang turun sesudah hijrah) secara umum berbicara tentang hukum dan perinciannya, halal dan haram, muamalat dan lain sebagainya.

Mari kita simak penuturan ibunda kita Aisyah –radhiyallahu ‘anha- (wanita. yang paling alim ditengah-tangah umat islam):
“Surat yang pertama kali turun berbicara tentang surga dan neraka, sampai ketika manusia sudah yakin dengan keislamannya maka turunlah surat yang berbicara mengenai halal dan haram. Jika saja surat yang pertama kali turun t entang larangan. minum khamr niscaya mereka akan mengatakan: “Kami tidak akan meninggalkan khamr selama-lamanya.” Dan jika saja surat yang pertama kali turun tentang larangan berzina niscaya mereka akan mengatakan: “Kami tidak akan meninggalkan zina selama-lamanya…” (HR. Bukhari)

Inipun wasiat Nabi saat melepas kepergian Mu’adz bin Jabal untuk berdakwah. Beliau memerintahkan Mu’adz untuk memulai dakwahnya dengan tauhid, lalu menegakkan shalat, kemudian membayar zakat.

Kaidah ini memiliki dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.

Contoh:
Jika engkau melihat seseorang. melakukan kemaksiatan dan ia musyrik, apakah engkau akan mengatakan yang pertama kali kepada dia: “Shalatlah kamu, sedangkan ia musyrik?! “Berpuasalah, sedangkan ia musyrik?! atau engkau akan mengatakan: “Masuklah kamu ke dalam islam dan ucapkan dua kalimat syahadat! Lalu shalatlah serta berpuasalah di bulan ramadhan!”

Saya rasa kita sepakat untuk memilih cara yang kedua, kita memulainya dengan mengajak ia memeluk tauhid, lalu kemudian mengajaknya untuk mendirikan shalat dan syari’at-syari’at islam yang lainnya.

Bagaimana mungkin kita mendakwahkan dia untuk shalat sedangkan ia masih dalam keadaan musyrik?! Ia akan menolak secara. spontan karena keimanan belum menyentuh hatinya. Kalaupun ia shalat maka shalatnya tidak akan diterima oleh ALLAH (QS. Azzumar : 65 ->  Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Rabb), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi)).

Akhir kata, marilah kita menjadikan Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebagai suri tauladan di setiap sendi kehidupan (QS. Al ahzab : 21 -> Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) ALLAH dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut ALLAH),
termasuk saat kita berdakwah, kita memulai dakwah kita sebagaimana Rasulullah memulai dakwahnya, karena beliau ma’sum, metode beliau adalah metode terbaik dan terbukti berhasil dalam memberikan hidayah kepada manusia.

Wallahu a’lam.

# KAIDAH2 METODE BERAGAMA ASWAJA #
Ust. Nuzul LC
(1/2)

Kaidah ketujuh:

Mengagungkan seluruh perkara agama dan mendakwahkan apa yang didakwahkan Rasulullah –shallallahu. ‘alaihi wa sallam- sesuai kemampuan yang dimiliki.

Kaidah ini menjelaskan bahwa saat kita menomorsatukan tauhid dan memprioritaskan dakwah tauhid, bukan berarti kita meremehkan perkara agama yang lain. Bukan berarti kita memandang sebelah mata perintah-perintah ALLAH yang lain dan. meremehkan kemaksiatan dan berbagai kesalahan. Melainkan karena kita menomorsatukan pembagunan pondasi yang kokoh (baca: tauhid) sebelum hal penting lainnya. Karena kita mengobati penyakit yang paling mematikan (baca: syirik) sebelum penyakit dan luka lain yang. menggrogoti iman seorang hamba.

Oleh karena itu, muslim yang baik akan selalu mengagungkan seluruh perkara agama serta waspada dan berupaya meninggalkan bahaya setiap kemaksiatan tanpa terkecuali.

ALLAH berfirman:
‫‫
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً‪   ‬‬‬

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhannya.” (QS. Al Baqarah: 208)

Ambillah seluruh syariat islam dan tinggalkanlah seluruh larangan, begitulah yang dituturkan pakar tafsir Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Sebagai seorang hamba, janganlah. kita meremehkan sebuah perintah atau larangan, simaklah sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- berikut ini:
“Wahai hamba ALLAH, hendaklah kalian meluruskan shaf kalian saat kalian shalat, jika tidak maka ALLAH akan. membuat hati kalian berselisih” (Muttafaqun ‘alaih)

Lihatlah bagaimana akibat dari melalaikan sebuah syariat yang sering diremehkan oleh sebagian umat islam dapat berakibat fatal yaitu memecah belah persatuan dan kesatuan umat.

Hadits diatas hanyalah sebuah contoh dan wakil dari dalil-dalil lain yang intinya menunjukkan bahwa melalaikan sebuah syariat dapat berakibat fatal bagi umat walaupun syariat tersebut dipandang remeh oleh sebagian umat seperti merapatkan shaf diatas.

*
# KAIDAH2 METODE BERAGAMA ASWAJA #
Ust. Nuzul LC
(2/2)

Ulama memberikan nasehat yang berharga agar kita tidak meremehkan satu pun syariat islam:
“Jika datang sebuah syariat maka lihatlah siapa yang mensyariatkan hal tersebut.”

Saudaraku, jika kita seorang pegawai, lalu pemilik perusahaan kita meminta kita untuk membeli bawang putih dengan segera, apakah kita berani meremehkan perintah beliau? Apakah kita berani menertawakan perintah tersebut? Beranikah kita menundanya dengan dalih masih banyak pekerjaan yang lebih penting dari hanya sekedar membeli bawang putih?! Atau kita akan bergegas membeli bawang putih itu dan meninggalkan seluruh pekerjaan yang ada di hadapan kita karena owner memintanya dengan segera?

Saya rasa kita semua tahu jawabannya, karena sudut pandang kita tertuju kepada siapa yang memerintahkan bukan kepada bawang putihnya. Buktinya jika keesokan harinya Office Boy kita meminta tolong hal yang sama kepada kita, sikap kita akan berbeda bukan?

Begitupun dalam hal ini, ingatlah bahwa seluruh perintah dan larangan berasal dari ALLAH yang telah menciptakan kita, pemilik kita serta seluruh alam semesta, Dzat yang telah melimpahkan anugerahnya kepada kita. Maka alangkah angkuhnya kita jika perintah dan laranganNya ada dihadapan kita,kita masih bisa berkomentar: inikan hal kecil?! Ini hanyalah hal yang parsial?! Masalah sepele seperti ini kok dibahas dan diributkan?! Dan bentuk peremehan lainnya.

Ingatlah selalu firman ALLAH:
‫‫ذَلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ‬‬

“Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32)

Wallahu a’lam

# KAIDAH2 METODE BERAGAMA ASWAJA #
Ust. Nuzul LC
(1/2)
Kaidah ke-8:
“Tidak menyelisihi Nash (AlQuran dan Hadits yang shahih) dengan akal dan juga tidak dengan hawa nafsu dan pemikiran-pemikiran serta tidak dengan perkataan seorang pun juga.”Kaidah ini menyebutkan bahwa seorang muslim wajib menerima dalil dari Al Qur’an dan As Sunnah tanpa membandingkannya dengan akal dan tidak boleh mendahulukan akal daripada dalil.ALLAH ta’ala berfirman yang artinya: “Maka demi Rabb-mu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An Nisa: 65) Renungkanlah ayat yang mulia ini sebelum kita berpikir untuk mengkritisi dan menolak dalil. ALLAH yang bersumpah dan berfirman bahwa menerima dan tunduk terhadap apa yang difirmankan ALLAH dan disabdakan Rasul-Nya dengan sepenuh hati tanpa ada setitik keluh kesah adalah syarat meraih iman yang sejati. Inilah hakikat islam, yaitu berserah diri kepada Allah dengan tauhid dan tunduk serta patuh pada Allah dengan menjalankan ketaatan kepadanya dan berlepas diri dari perbuatan menyekutukan Allah (syirik) dan berlepas diri dari orang-orang yang menyekutukan Allah (musyrik). Jika sebuah nash itu shahih maka wajib bagi setiap muslim untuk menerimanya walaupun itu –karena kelemahan akalnya- dianggap bertentangan dengan akal manusia dan pemikirannya, karena nash-nash itu ma’shum (terjaga dari kesalahan), sedangkan pemikiran manusia dan akal mereka terbatas dan penuh kekurangan. Betapa banyak manusia. yang memutuskan sesuatu dengan akal dan analisanya lalu ia yakini sebagai sebuah kebenaran, namun besok atau lusa ia berubah pikiran dan ia anggap hal itu sebuah kesalahan dan ia merevisi pemikirannya yang pertama. Dan fenomena ini kita alami dalam kehidupan kita sehari-hari.Bersambung…

# KAIDAH2 METODE BERAGAMA ASWAJA #
Ust. Nuzul LC
(2/2)

Lanjutan kaidah ke 8
Sedangkan Nash yang berasal dari Al Qur’an dan As Sunnah ma’shumah, tidak ada kesalahan di dalamnya, semuanya benar karena diturunkan dari Dzat Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji, ALLAH berfirman: “Yang. tidak datang kepadanya (Al Qur’an) kebatilan baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari Rabb Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji.” (QS. Fushshilat: 42)Mari kita simak penilaian ALLAH tentang orang yang menolak dalil, membantah ayat atau mengkritisi hadits Nabi, apakah mereka benar-benar seorang intelektual dan cendikiawan muslim yang berjuang untuk islam dan kaum muslimin serta menyegarkan pemahaman islam mereka?ALLAH. ta’ala berfirman: “Maka jika mereka tidak menjawab, ketahuilah. bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari ALLAH sedikitpun. Sesungguhnya ALLAH tidak member. petunjuk kepada orang-orang yang zhalim.” (Al Qashash: 50).Saudaraku, ternyata ALLAH menilai mereka hanyalah pengikut hawa nafsu, tidak lebih dari itu.Berbeda dengan orang yang beriman, mereka menerima apa yang ALLAH dan Rasul-Nya perintahkan dan apa yang dilarang secara zhahir maupun bathin.Hal ini sebagaimana firman ALLAH ta’ala: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang. mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS. Al Ahzab: 36) Saudaraku, Logika dan akal sehat mana yang bisa menerima bahwa akal seorang anak manusia lebih baik dan lebih diutamakan dibanding keputusan Rabbnya?!

Wallahu a’lam.

by Abu Hamzah Suparwan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s